Kamis, 14 Agustus 2014

Ketika Tasbih dan Rosario Satu Cinta

       "Iiiibbuuuuu..iibbbuuu." "Ana apa to le, kok teriak teriak?" "Anu.." Dengan mimik yang bingung, aku garuk kepalaku yang sebenarnya nggak gatal. f "Anu apa to le? Ibu bingung iki." "Iku lho bu,kemeja kotak-kotakku di mana ya bu?" "Ckckckck oalah to le le, kirain ana apa. Iku wes ana di lemari." Tanpa babibu, aku langsung ambil langkah seribu menuju ke lemari yang ada di kamarku.

       Ya, aku Beny Bramantyo. Bebe begitulah sebutan untukku. Terlahir di tanah Jawa, tepatnya di Jawa Tengah, yang menurutku penuh dengan budaya dan alamnya yang indah. Walaupun banyak hasil karya tangan yang tak pernah diharapkan kedatangannya, namun tanah Jawa Tengah akan selalu terhiasi oleh karya unik generasi mudanya.

                           ***

      Mataku terbelalak seketika,di selingan aku memilah milah pakaianku. Terselip sebuah figura yang memang tak asing untukku. Ya, figura itu sengaja aku simpan semenjak 3 tahun yang lalu, di iringi dengan beberapa kenangan indah tersembunyi di dalamnya. Ku raih figura itu dengan hati-hati. Tampak seorang gadis yang cantik dengan baju putih abu-abunya, rambut panjang ikalnya yang tergerai lepas, hidungnya yang mancung, dan kulitnya yang putih langsat, membuatku tak bisa berhenti untuk menatapnya.

       Ku rebahkan tubuhku di ranjang, sembari ku pandangi gadis penghuni figura itu. Sejenak kupejamkan mataku. Tak lama gadis itu muncul dengan senyumnya yang membuat orang tak ingin memalingkan wajah jika melihatnya.

       Dia memang cantik, bahkan sempurna menurutku. Dia Melani Senja Kharisma. Dia teman SMA ku, dan gadis special di hidupku.

                            ***

       Surakarta, banyak orang bilang itu kota budaya. Ya memang begitulah kota tercintaku, kota yang membuat aku ingin selalu membanggakannya, dan kota yang mampu menyumbang berbagai budaya dan kuliner untuk negeri ini. Menurutku kota yang wajib untuk dikunjungi.

       Di sinilah, di SMA 6 ini kenangan demi kenangan itu terurai. Peluhan keringat banyak yang tertuang di sini. Dan satu yang ngga boleh terlupakan. Gadis itu. Karena di sinilah pertama kalinya mata kami bertemu. Dan di sinilah awal mula semua itu.

                            ***

       Pagi ini tampak cerah, karna aku sudah melihat senyum manisnya. Entah untuk siapa senyum itu dilontarkan, aku tak peduli, yang terpenting keindahan tersendiri untukku. "Woy bro!!" Teriakan itu membuyarkan lamunanku seketika. "Sial kamu! Ngagetin wae." "Hahaha ya iyalah kaget, lagi asyik ngalamunin cewe sih." Tawanya yang simple seakan-akan menggodaku. "Sok tau kamu ki." "Lha emang bener to?" "Eh vin, cewe itu siapa?" "Yang mana?" Spontan kepala kami menengok ke arah ujung jari yang sudah aku ulurkan. "Kalo ngga salah namanya Melani, dia anak X IPS 5." "Wah deket to berarti sama kelas kita." "Lha emang kan? Ke mana aja bang kok baru tau?" "Ya kalo nama sama kelasnya aku memang baru tau, kan aku orangnya ndak kepo kayak kamu." "Woyy mas semua orang di sini juga tau kalau dia itu Melinda X IPS 5." "Berarti aku yang telat ya?" "Emang!! Udah yuk ke kelas, debat mulu di sini."

       KRRRIIIIINNNNGG!!!!!! "Kantin yuk bro!" "Males ah." Wajah tak asing itu sekilas lewat di depan kelasku dan menuju ke arah kaaannnttiiinnn. Ya kantin. "Ya udah tak tinggal dulu ya." Kutarik punggung baju sahabatku itu. "Eehh tunggu, aku ikut." "Dasar labil!"

       Langkah ku terlihat begitu tegap dengan postur tubuhku yang terlihat ideal. Bisa dibilang aku dan sahabatku masuk ke dalam jajaran cowo famous di sekolah. Itu sih menurut cewe cewe di sekolah aku. Kadang risih juga denger teriakan cewe cewe alay bin gak jelas itu. Masa bodo aja lah.

       Seketika mataku dengan tajam mengarah kesosok cewe yang ngga asing buatku. Ya cewe itu! Terlihat dia tertawa lepas bersama teman-temannya. Manis bangeett! Lagi lagi sobatku yang keliatannya ngga pernah senang melihat aku bahagia, langsung membuyarkan kefokusanku untuk menatap Melani dari jauh. "Woy! Bakso mu itu!" Dan selalu saja kalo nggagetin ngga hanya teriak pasti diimbuhi dengan kegiatan tangannya, entah itu jitak, entah itu nonjok, emang itu anak ngeselin banget, but dia sahabat yang baik plus aneh sih sebenarnya. "Tempatnya penuh vin, mau duduk mana?" "Eelaah bro bentar-bentar." Dia intari setiap sudut sudut tempat di kantin dengan gaya ala-ala detektif. "Nah itu ada tempat pas bro tinggal buat 2 orang aja tuh." "Man.." Belum selesai ngomong, Alvin udah lari menuju bangku itu. "Kita boleh duduk sini kan?" "Boleh ko." Suara itu rasanya ngga asing di telingaku. Perlahan-lahan ku angkat kepalaku yang tadinya tertunduk menatap semangkuk bakso yang membuat tanganku panas. "MELANI," Batinku. Aku duduk di depan dia? Senang, malu, terharu campur aduk rasanya.

       "Hey kamu Melani kan anak kelas X IPS 5?" Suara itu membuatku hampir mati gara-gara tersedak bakso. "Ngapain kamu tanya-tanya dia?" Bisikku. "Ngga usah cemburu gitu kali bro." "Husshh jangan bikin malu ya!" "Ehem. Iya aku Melani." "Kenalin aku Alvin Revado, you can call me Alvin. Ini sahabat aku Beny Bramantyo, panggil aja Bebe." "Hehehe." Aku cuma nyengir tipis bak kuda kelaparan. KRIIINNGGG! "Eemm Alvin,Bebe udah bel kita ke kelas dulu ya." "Oke Mel, take care ya." Aku hanya tersenyum sumbang melihat dia terbata-bata menyebut namaku untuk berpamitan. "Hahaha." Tawa lepas Alvin muncul tiba-tiba. "Ngapain kamu?" "Ciye mase jatuh cinta." "Halah udah ngga bener nih omongannya. Balik ke kelas ah." "Tunggu to Be."

       "Siang buu.." "Udah pulang Ben?" "Udah bu, aku ke kamar dulu ya bu." Ku cium tangan yang kulitnya mulai berkerut karena usianya yang semakin senja. "Ndak maem dulu?" "Nanti aja bu, masih kenyang."

      Ku rebahkan badanku ke ranjang dengan sepatu dan seragam yang masih menempel di tempatnya. Senyum sumbangku muncul. Aku heran kenapa aku tiba tiba senyum seperti ini, dan lebihnya ada wajah Melani yang tanpa ku undang tiba-tiba muncul. Mungkin akibat perkenalan tadi. Akupun terlelap dalam tidurku.

                            ***

       Sengaja hari ini aku berangkat lebih pagi dari yang biasanya, karena bukan anak sekolah kalo belum pernah merasakan bikin PR di sekolah. Ya. Sebenarnya itu tujuanku untuk berangkat lebih pagi. GUBRAAK! Seperti suara tembakan di tempat perang. Sayangnya bukan. "Alvin? Kenapa ko kusut? Belom di setrika?" "Biasalah bro berantem. Kamu ngerjain apa itu?" "Bahasa Inggris bro." "Mampus Pak Danu ya? Mana aku ngga mudeng, duh gimana to iki?" Raut wajahnya berubah seketika menjadi tegang, karena Pak Danu salah satu guru killer di sekolah kami. "Yo wes buruan dibuat, ngomong wae." "Eh ho.oh ya. Kamu udah to? Aku pinjem." "Dasar labil."

      Aku memang terbiasa dan selalu pulang bareng Alvin tapi kita tak pernah menunggangi satu motor yang sama. "Eh Melani." "Hay Alvin,Bebe." Lagi lagi aku hanya berani menampilkan senyum sumbangku. "Ko belum pulang?" "Iya nih aku belum dijemput." "Oo yaudah bareng Bebe aja, daripada nunggu di sini sendirian. Iya ngga,Be?" "Ee iya bener,Mel." Langkah bibirku tertatih tatih menjawab pertanyaan Alvin yang mungkin bisa membuatku terkena penyakit jantung seketika. "Beneran nih?" "Iya Mel ngga apa-apa. Yaudah bro tak tinggal dulu ya aku buru-buru." Mataku hampir keluar melihat tingkah itu bocah. "Yaudah yuk kita pulang sekarang!" Dia hanya tersenyum manis.

       Jatung ini berdebar tidak pada normalnya, begitu cepat seolah-olah aku sedang berlari. "Rumah kamu di mana Mel?" "Di perumahan Fajar Indah blok B no 24. Surakarta." "Hehe iyalah Mel di Surakarta. Berarti deket to sama rumahku." Ku beranikan diri untuk bercakap cakap dengan dia walau agak sedikit canggung. "Nah itu rumahku yang warna abu-abu." "Udah nyampek deh." "Makasih ya Be. Masuk dulu yuk." "Makasih Mel, lain kali aja ya, udah ditunggu ibu aku. Aku langsung pulang aja ya." "Oh gitu? Yaudah sekali lagi makasih ya Be." "Siap Mel. Aku pulang dulu ya hehe." Baru membangunkan motorku lagi, ada tangan lentik yang merengkuh lenganku. Jantungku melaju lebih cepat. "Be.." "Ya Mel?" Dia terdiam cukup lama. "Take care ya." Lagi dan lagi aku hanya mengeluarkan senyum sumbangku, beriring dengan kepergianku meninggalkan rumah Melani.

                             ***

      Tak terasa sudah hampir 3 bulan kita dekat, dan berstatuskan sahabat. Getaran itu kerap muncul ketika dia ada di sampingku, namun aku ragu untuk mengungkapkannya.
"Bebe, Alvin." Sapa Melani ketika aku sedang makan di kantin. "Ngga makan Mel?" "Engga Vin, lagi diet." "Hehehe badan segitu mau dikurusi lagi? Terbang lho nanti." Aku masih asyik dengan semangkuk bakso dihadapanku. "Be?" Ku tonjolkan kepalaku sembari menyuapkan sesendok kuah bakso yang segar. "Ntar ada acara ngga?" Aku hanya menggelengkan kepalaku. "Pulang sekolah jalan yuk! Aku lagi bete nih." Dan aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia memasang mimik wajah yang bingung dan heran. "Vin dia kenapa sih? Sariawan atau sakit gigi?" Bisiknya ke Alvin yang sebenarnya jelas-jelas terdengar olehku, namun aku abaikan. "Ndak usah kaget Mel. Dia kalau lagi maem bakso emang ndak mau di ganggu." "Ooo." Sesuap lagi mangkuk yang ada di hadapanku akan kehilangan isinya. "Aaahhhh segerrr." "Yaudah Be, nanti pulang sekolah aku tunggu di depan gerbang ya. Aku balik ke kelas dulu ya pelajaran Bu Atik nih, daaaa."

      "Berangkat sekarang yuk." Tanpa babibu aku bangunkan lagi motorku, dan langsung berlari ke Solo Grand Mall. Dia rengkuh tanganku dan menarikku yang membuatku hampir aja jatuh tersungkur. "Ayoo keburu habis bajunya." Katanya seakan meperlihatkan kepolosannya.

       Melani sosok gadis yang manis, terlahir dari keluarga Gereja, yang berkecukupan, dan dia gadis Manado yang merantau ke Surakarta bersama keluarganya karena ayahnya ditugaskan di Jawa, Surakarta lebih tepatnya. Meskipun demikian, dia tak ingin menampilkan sebagai gadis yang mewah, dia lebih memilih untuk menjadi gadis yang sederhana. Mungkin itulah alasan kenapa banyak cowo yang berlomba lomba lari untuk memperebutkan hadiah yang sangat luar biasa, karena dijaman yang seperti ini sangat jarang ada gadis yang seperti Melani.

       "Udah dapet bajunya?" "Hehe udah nih." Tawa girangnya sungguh manis. "Girang banget kamu." "Hehe ini baju yang aku pengen dari lama, dan mumpung ada sale, kan lumayan tuh." Ku usap-usap rambut ikalnya yang hitam jatuh tergerai. "Makan yuk! Laper ini." Kupindahkan usapan tanganku menuju ke perutku yang dari dadi udah berorasi bak calon presiden. "Yuk, makan apa?" "Pizza aja ya,Mel?" "Boleh deh."

      Percakapan panjang telah kita uraikan, tanpa sadar di meja kita hanya tersisa piring dan teman-temannya. Kita putuskan untuk pulang ke rumah karena cuaca yang juga tidak memungkinkan.

      Firasatku benar. Baru saja sampai di rumah Melani, petir sudah meramaikan kota ini, kedatangannya diikuti dengan guyuran hujan yang membasahi kota budaya ini. "Masuk dulu aja yuk, hujannya masih deras lho." "Ya sudah kalau begitu." Selang beberapa lama hujan mulai kembali ke alamnya. Aku pamit untuk pulang karena hari juga semakin petang.

                             ***

      Perasaan ini sudah tak bisa dibendung oleh bata, pasir, ataupun baja sekalipun. "Kenapa kusut? Belum sempat menyetrika?" "Keliatannya aku jatuh cinta deh." "Hahahaha." Tawanya pecah seraya membuatku bingung bak tupai yang sedang berbicara dengan kucing. "Bingung yo?" Aku mengangguk pelan. "Bebe itu bukan kelihatannya lagi, tapi memang." Dia cubit pipiku yang membuatku berontak geli. "Hii kurang ajar kamu, jijik! Aku masih normal." "Kalau normal yaudah tembak dia!" "Taaappii.." "Apalagi? Takut?" "Aiisshh sorry, yo endaklah! Maksudku itu tapi bantuin aku ya?" "Hhhmmm boleh-boleh tapi mie ayam ya?" "Gampang, ada ide ndak kamu?" Kita saling membisu, Alvin memilih memasang tampang sok mikirnya. "Haaa!" "Apa?" "Sini tak bisikin." Bibirnya terdengar komat kamit di telingaku dan memberikan suatu rencana.

       Malam ini tepat malam minggu, aku sengaja mengajak Melani untuk mengisi malam ini denganku. Di tengah jalan motorku tiba-tiba mati karena kekeringan bensin, aku minta ijin ke Melani untuk membeli bensin sebentar, ku tinggalkan Melani sendirian di tempat yang kebetulan sepi dan agak gelap. Kulihat dari jauh dia terlihat ketakutan, apalagi ada 3 pria yang menghampirinya dengan pakaian hitam-hitam. Terlihat pria-pria itu memunggungi Melani. Samar-samar nampak cahaya warna biru dipakaian pria-pria itu. Langkah cahaya itu penuh tahap, lama kelamaan terlihat bentuk aslinya. Tulisan. Ya tulisan 'I <3 U', tak berhenti di situ, ketiga pria itu kemudia mengangkat papan berukuran ubin kamar mandi. Lagi lagi ada tulisan di sana. 'ME-LA-NI' begitulah bunyinya. Ku beranikan diri untuk melangkah mendekati Melani dan ketiga pria itu. Semakin dekat dan semakin dekat. Kini aku tepat berada di depan punggung Melani. Kudekatkan bibirku dengan ujung telinganya, dan mulai berbisik. "Gimana? Apa aku di terima?" Secepat kilat dia membalikkan badannya ke arah ku, kini mata kami bertemu. Aku bisa melihat ada air mata haru di dalam sana. "Mel? Ko diem?" Dia hanya mengangguk pelan dan menangis terharu. Ku usap air matanya dengan lembut, ku rengguh bahunya dan ku peluk dalam-dalam. Suara petir bermunculan, tapi sayangnya ini bukan petir, ya kembang api. Kembang api yang special aku pesan untuk dia. Dia semakin terlarut dalam haru melihat kembang api itu menampilkan keindahannya dia atap yang gelap. Ku peluk dia sampai suara tepuk tangan mengiringi pelukan kita.

                            ***

      Sungguh keindahan yang luar biasa, karena kita bisa bertahan sampai sekarang, 2 tahun kita satu kelas. Setiap moment istrahat kita pilih untuk melewatkannya makan berdua atau kadang di temani Alvin, karena aku tak ingin melupakan persahabatan kita begitu saja. Semenjak itu dia lebih sering membawa bekal untuk kita makan di kelas. Walaupun ngga setiap hari dia membawanya.

       Ujian sudah di depan mata, sudah hampir dua bulan kita tak melewati hari-hari bersama untuk jalan, ataupun nonton, walaupun kita setiap hari bertemu di sekolah, tapi kita sudah berkomitmen, selama menjelang ujian kita memilih fokus untuk ujian demi masa depan kita.

       Aku dan Alvin sudah terdaftar di falkutas yang sama, tidak dengan Melani, dia melanjutkan pendidikannya di kota pahlawan, lagi-lagi karena pekerjaan ayahnya. Meskipun demikian cinta kita pun tertakdirkan untuk lebih indah. Aku memilih untuk kuliah sambil bekerja. Ya aku bekerja di suatu perusahaan ternama di kota budaya ini. Dan aku memilih untuk ambil kuliah senja, biar aku bisa bekerja ketika matahari menampakkan wajahnya.

       Suatu saat aku memilih untuk hijrah ke kota pahlawan. Tentunya karena aku ingin menemui Melani, kangen rasanya sudah lama tak bertemu dengannya. Sebelumnya aku memang sudah janjian dengan Melani untuk bertemu. Dan kami bertemu di salah satu caffe di kota pahlawan.

       Senyum itu tak pernah berubah, masih sama seperti 2tahun yang lalu. Senyum yang aku kangenin. Ku rengguh tangan lembutnya, tanda kerinduanku. "Mel, kamu apa kabar?" "Aku baik, kamu?" "Aku baik, aku kangen sama kamu,Mel." Sekejap kukecup tangan lembutnya, namun ada yang nampak beda dengannya. Seperti ada kata-kata yang tersembunyi dibalik matanya indahnya. "Kamu kenapa?" "Haa?" "Kamu kenapa sayang?" "Engga apa-apa kok Be." "Bohong!" Dia terus berusaha menutupinya, dan sampai pada akhirnya dia mau untuk mengakuinya. "Mama, papa larang hubungan kita." Aku melihat air mata sucinya jatuh tertahan sejenak di pipinya. "Lho kenapa begitu? Kita udah pacaran lama lho, udah 4tahun Mel, bukan waktu yang singkat." "Aku juga ngga ngerti, mama cuma bilang hubungan kita ngga bisa diterusin, mama dan papa pengen aku dapet seseorang yang seiman, yang satu keyakinan." "Terus kenapa mama papa kamu ngga melarang hubungan ini dari dulu, dari kita SMA? Kenapa baru sekarang, disaat aku ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius?" "Mama dan papa waktu itu berfikir kalau cinta kita hana cinta monyet, yang akan bertahan sesaat saja." Air mataku ikut terjatuh ketika mendengar penjelasan Melani. Aku berusaha tegar agar Melani tak semakin merasa bersalah. "Maafin aku Be, aku bingung, kalian sama-sama berarti buat aku." Dia menangis sesenggukan. "Cup cup cup, udah aku ngerti kok." Aku mencoba menenangkannya dan menghantarkannya.

       Hari itu juga aku memilih untuk pulang ke Surakarta lagi, selain karena ada kerjaan yang mendadak, karena aku juga ingin menenangkan diri di sana. Badanku masih lemas, ingin berontak, ingin lari karena tak ingin mendengar kabar itu. Tapi Tuhan memaksaku untuk tetap bertahan diposisi ini.

       Setiap hari, setiap detik, dan setiap langkahku, aku berusaha untuk mematikan perasaan itu. Namun tak bisa, dan tak pernah semudah itu. Aku hanya bisa diam dan pasrah pada Tuhan untuk hidup ini.

       Semenjak itu aku sudah tak mendengar kabar Melani lagi, bahkan sudah jarang mendengar namanya, karena saking sibuknya bekerja. Aku hanya berharap dia baik baik di sana. Dan aku hanya bisa berpesan dari setiap sujud syukurku, setiap tatih tatih doaku.

                              ***

       "Lee.. Bangun lee.. Sudah pagi, kamu ndak kerja?" Suara ibu membuyarkan mimpi indahku pagi ini. "Iya bu, bentar." "Sholat subuh dulu habis itu mandi." Aku masih melihat pigura itu yang kini tergeletak di samping bantalku.

       Kini aku ditugaskan untuk jadi kepala manager di kota paris van java ini. Semakin membuatku tak tahu menahu tentang kabar Melani sekarang. Dan mengenai mimpi itu, membawaku pergi ke enam tahun yang lalu, pertama kali aku bertemu dengan Melani dan tiga tahun yang lalu saat semuanya berakhir begitu saja.

       Pulang kerja aku senga mampir ke sebuah supermarket untuk belanja kebutuhan pribadiku. Mata terbelalak dan tubuhku tersontak kaget ketika mataku mengarah ke sosok wanita dengan tangan memangku seorang bayi mungil yang tampan. Wajah itu tak asing untukku. Otakku menyimpulkannya cepat. Melani! Ya benar itu Melani, aku berniat untuk pergi menghindar, namun langkahku digagalkan dengan satu suara yang menyebutkan namaku. "Bebe!" Dengan terpaksa aku menoleh disaat dia mulai berada tepat di depan mataku. Mata kita tak lagi bertemu seperti dulu, aku tak berani menatap matanya, karena hati ini sudah hancur tercabik cabik melihat dia sekarang sudah menjadi ibu. Ibu yang bukan dari anak-anakku. Kita sempat bercakap-cakap sejenak sebelum seorang pria menghampiri kita. Pria yang tak kalah tinggi denganku itu ternyata suami Melani, pria itu seorang pengusaha sukses yang sejalan ajarannya. Tak lama aku pamit untuk pulang, karena aku benar benar tak tahan melihatnya. "Mel, aku pulang dulu ya. Sekali selamat." "Thanks ya Be. Take care!" Kupercepat langkahku untuk peri sampai pelupuk mataku tak sanggup melihat mereka lagi.



                ~° S•E•L•E•S•A•I °~
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar