"Happy Birthday to you..." Yeee 17 tahun sudah Tuhan memberikan nafas untukku, Tuhan menuliskan cerita dihidupku. Di tempat ini, di hotel ini tampak semu keceriaan dari wajah-wajah yang tak asing bagiku. Mama, papa, kakak, Chika, Della, Diana, Stevan , serta teman temanku yang lain. Ya, merekalah orang orang special dihidupku, yang turut serta memeriahkan alur ceritaku.
Pesta masih berlanjut, alunan musik yang terus berdetak. Ketika musiknya mulai beralih ke genre akustik, aku dan Stevan ikut beralih ke tempat yang sedih lebih hening. " Sayang, i am sorry i can't bring you a gift. " Kulihat matanya nampak nanar, raut wajahnya pun menandakan kekecewaan. " No problem bee. Dengan waktu yang kamu kasih ke aku, itu sudah kado teristimewa buat aku," ucapku menenangkannya. Tampak senyum manisnya mengambang di sela-sela sudut bibirnya yang manis.
Ya, dia Stevanus Putra Widjaya. Kekasih yang selalu aku banggakan, kekasih yang menyuportku kemanapun langkahku berada,selama itu benar tentunya. Kekasih yang menduduki bangku sekolah Katolik, jurusan IPA selama 6 semester ini. Tentunya kekasih yang di harapkan kaum hawa,mungkin. Bagaimana tidak, kulitnya yang putih langsat, hidungnya yang mancung bak paruh burung gereja, kegemarannya bersosialisasi membuat kaum hawa histeris ketika bertegur sapa dengannya.
***
Turun dari mobil sudah biasa rasanya mendapat sambutan sambutan tatapan-tatapan tajam dari penjuru sekolah. Entah apa salahku, aku berusaha cuek dan enggan mengurusi. Tak lama kemudian tiga wajah yang tak asing menyabar tubuhku. "Della, Diana, Chika. Sakit tauk!" "Kelas yuk cubby," ajak Diana. Hmmm emang sih, pipiku termasuk golongan cubby.
Pintu kelas sudah melambai menyambut kedatangan kami. Kaki hendak melangkah, namun apa daya sang pangeran menghadang perjuangan kami. "Morning sayang." Sapanya lembut, sembari membubuhkan senyum termanis, ya manis banget. "Kok kamu malah di sini, ngga ke kelas?" "Habis ini, mau liat kamu dulu." Pipi tomatku mulai beraksi, tapi aku bergegas menghapusnya demin menahan rasa malu. "Udah ah sana ke kelas aja, aku mau lewat. Minggir!" Bentakku. "Ngga usah salting gitu lah." Aku tetap melangkah seolah-olah tak mendengar ucapannya.
Baru pergantian jam terakhir, kebetulan gurunya lagi izin, anaknya sakit katanya. Seharian ini aku enggan beranjak dari tempat dudukku, dan masih asik bergelut dengan tugasku. Dan tak tampak wajah Stevan menengokku, tapi aku tak mau ambil pusing soal itu. Aku sempatin menengok conection dihandphoneku. 30BBM dari Stevan. "Stevan apaan sih?Kurang kerjaan." Batinku. "Sayang, nanti pulang sekolah tengok ke lapangan ya, tapi tunggu aba-aba dari aku." Sebenernya messagenya cuma segitu, hanya saja dia ngeresend sampe 30kali. Alay memang.
Bel pulang sekolah berdetum. Nampak aneh, yang biasanya tiga angels ku menarik-nariku bak kuda yang malas untuk berjalan, kini mereka pergi tanpa menghiraukanku.
Kini aku menjadi satu-satunya penghuni kelas, semua hilang, semua pergi. Sepi. Sekilas aku tengok ponselku, dan itulah kegiatanku selama hampir satu jam. Tapi tak ada satupun pesan ataupun BBM dari Stevan. Baik aku memutuskan untuk balik, karena emang udah capek seharian sekolah. Baru aja mau meraih tasku dari atas meja, ponselku berdering. Telvon dari Stevan ternyata. "Hallo, lama banget sih! Aku mau pulang ah!" Bentakku. "Maaf sayang, jangan pulang dulu dong. Sekarang kamu ikutin aba-aba aku ya. Kamu jalan keluar kelas, kamu berdiri di depan kelas dengan jarak satu meter dari tembok balkon yang di depan kelas." "Udah nih." "Sekarang kamu pejamkan mata." "Hihhh mau ngapain sih, di atas udah sepi tauk." "Bawelnya nanti aja yank." Tanpa ngejawab aku ngikutin arahan sang sutradara. "Hitungan ke lima buka mata ya." Aku cuma diam, dan dia mulai berhitung bak anak TK yg belajar berhitung. Aku mendengar suaranya menyebut angka lima, ya mataku membuka perlahan. Mulutkupun ikut membuka seketika melihat apa yang mataku lihat. Sekumpulan balon yang menerbangkan kain bertulis kan "Happy Birthday Agatha Tya Susanto." Ya, tertulis namaku di situ. Setitik air jatuh menggenang di pipi. Speechless. Stevan memang romantis, sangat romantis malah. Tiba tiba dia sudah memelukku dari belakang, tanpa aba-aba segera kuhapus jejak air itu, malu. "Diihh yang nangis pake dihapus, malu yaaa." Bisiknya genit.
***
Setelah surprise itu, Stevan mengantarku pulang. Seperti biasa di parkiran aku nemu jenis mata yang sirik melihatku dengan Stevan, apalagi setelah kejadian tadi. "Kenapa sih mereka slalu ngeliatin aku kayak gitu?" "Udah biarin aja." Jawab Stevan cuek, sembari menyuruhku masuk ke mobilnya.
"Maaa... Aku pulang." Teriakku bermaksud memberi aba-aba. Tak ada jawaban, bahkan berasa tak berpenghuni. Aku naiki anak tangga menuju ke lantai dua, letak kamar keluargaku. Aku mendengar suara isak tangis yang sengaja ditahan. Ternyata dari kamar orang tuaku. "Mamaaaa!!!" Teriakku sembari berlari memeluk mama yang menangis memegangi pipinya. "Mama kenapa nangis?" Mama hanya menangis, dan enggan menjawab. Aku meraih tangan mama yang sedang menutupi pipinya. Mama mengelak dengan mendorong tanganku, dan tangisannya semakin menjadi.
Nampaknya mama tertidur di pelukanku, mungkin mama lelah terlalu lama menangis. Kuhantarkan tubuh mama menuju ranjang. Mulutku menganga kembali, kali ini bukan karna terharu bahagia, namun karena kaget. Ya, aku kaget melihat tubuh mama penuh dengan luka lebam. 'Apa ini ulah papah? Tapi papah yg ku kenal tak seperti ini.' Bantin tangisku. Kucium kening mama penuh haru, kuselimuti tubuhnya lalu kubiarkan terlelap.
Empat bulan berlalu, selama itu juga aku sering mendengar papa dan mama beradu mulut, sangat keras sehingga membuat tangisku pecah di dalam kamar. Takut, sedih, pengen berontak, itu yang aku rasakan. Tapi kenyataannya aku cuma bisa diam tanpa bertindak. Sering aku mendengar suara pukulan, dan memang aku melihat bekas luka ditubuh mama semakin banyak.
***
Semenjak kejadian itu di sekolah aku menjadi engga untuk bicara, lebih memilih bungkam. "Tyak, kantin yuk!" Ajak Diana. "Males!" Jawabku ketus, lalu meninggalkan mereka. "Tyak kenapa sih jadi jutek gitu?" "Tauk tuh Di, dia beda banget beberapa hari ini." Jawab Della.
"Sayang." sapa Stevan. Aku hanya diam dan semakin enggan untuk menjawab, aku tau ini usaha Della, Diana dan Chika untuk membuatku bicara. "Beberapa hari ini dia nggamau ngomong."jelas Chika. Aku melihat raut wajah mereka yang prihatin, tapi mereka cuma bisa prihatin tanpa mengerti yang terjadi. Apalagi Stevan, dia paling gasuka keluarga broken home, walapun papa dan mama belum cerai tapi aku takut Stevan bakal pergi ketika tau masalah ini.
Pulang sekolah Stevan mengajakku makan dulu sebelum mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan aku cuma diam, dan diam. "Sayang kamu kenapa, kok daritadi diem aja." "Aku nggapapa kok." Jawabku singkat, sembari membubuhi senyum sumbang.
Seusai makan aku langsung mengajaknya untuk beranjak pulang. Karena emang kondisiku yg lagi unmood. "Balik yuk!" ajakku dengan nada rada males. "Iya aku bayar dulu ya." Aku tak berucap lagi dan memilih menunggu di depan mobil.
***
Sesampai di rumah, serasa ada yang aneh. SEPI. Sangat sepi. "Maaa... Paa.. Aku pulang. Mama di mana?" Aku menggeledah rumah berusaha mencari orang. Tapi aku ngga menemukan orang satupun. Aku menyerah dengan tubuh lesu, di tambah beberapa hari aku tak nafsu makan. Kenyang dengan suara pertengkaran itu,fikirku.
Aku beralih menuju kamar, teman keseharianku. Aku kaget melihat seorang pria duduk di ujung ranjangku sembari menatap keluar. "Abang." Ya, kak Mario. Kakakku yang sedang melanjutkan study nya di Yogyakarta. Aku tak mengerti kenapa dia tiba-tiba di sini. Aku senang, karena aku rindu sekali dengan abangku.
Setelah sweet seventeenth ku, aku udah tak bertemu dengan abangku. Aku peluk dia penuh rindu. Tak kusadari pipinya sudah banjir dengan air mata. Dia melepaskan pelukanku, menyuruhku duduk di sebelahnya. "Abang kenapa?"tanyaku bingung. "Kamu tau ngga kenapa abang tiba-tiba pulang?" Seketika aku menggeleng tegas. "Entah kenapa perasaan abang menyuruh abang buat pulang. Abang ngga tau apa yang terjadi di sini, tapi tiap malem abang selalu mimpiin kalian, papa, mama, kamu. Dan bener setelah sampai di rumah abang ngga nemu siapa siapa, abang cuma nemu kertas ini yang digantung di kulkas." Jelas kak Rio sembari menunjukkan kertas yang dimaksud.
'Tya sayang, selamat siang. Kamu udah pulang sekolah yaa, jangan lupa makan ya! Mama udah siapin makan buat kamu di atas meja. Tya, mama minta maaf. Mama harus ngomong ini. Mama capek nak, kamu tau apa yang terjadi tiap malam, kamu tau apa yang terjadi di tubuh mama. Mama sakit nak, bukan karena memar ini. Mungkin mama masih bisa tahan merasakan memar ini, tapi mama ngga tahan melihat papa kamu bersama wanita lain. Mungkin ngga seharusnya mama bilang ke kamu, tapi mamapun ngga tau harus cerita ke siapa, dan mama pikir kamu cukup dewasa untuk tau. Mama menyerah nak. Maafkan mama. Mama harus pergi, pergi dari kehidupan kamu, dan Mario. Terimakasih jadi malaikat kecil buat mama, terus belajar, jangan nakal. Buat Mario, jaga adikmu ya. Mama sayang kalian. Salam cium. Mama.'
Air mataku terjatuh dari persembunyiannya. Aku teriak histeris seusai membaca surat itu. Tubuhku melemas, fikiranku tak karuan. Bang Rio memelukku menenangkan. Diapun ikut menangis. "Mama papa jahat bang!" Kataku penuh isak. "Udah kamu tenang dulu."
Seharian sudah aku terjatuh dalam tangisan, hingga aku tak sadar kalau aku sudah tertidur kelelahan. "Dek.. bangun. Makan dulu yuk!" Aku mendengar panggilan itu, tapi mataku enggan beranjak dari mimpi. "Ayo dek bangunnnn!!!" Mataku mulai menyambut panggilan itu. "Makan dulu yuk!! Matanya gede semua tuh!" Canda kak Mario berusaha menghiburku. Aku hanya menggeleng tegas. Dengan sabar kak Mario mengambil posisi duduk di sampingku. "Dek dengerin abang, kamu boleh sedih tapi kamu ngga boleh nyakitin diri kamu. Abang juga sedih, tapi abang tau kalo abang terus-terusan sedih siapa yang ngejaga kamu?" Aku hanya membisu. "Kamu sayang abang kan?" Aku mengangguk pelan, enggan mengeluarkan suaraku. "Yaudah sekarang makan yuk! Abang udah beliin nasi goreng. Kamu cuci muka terus ganti baju dulu ya, abang tunggu di bawah."
"Tyaaakkk...Tyaakkkk..." mendengar namaku di sebut, sontak aku dan Kak Rio menghentikan aktivitas. "Ada yang manggil tuh." Aku tau, aku hafal, dan aku kenal suara-suara itu. Ya, Della, Chika, dan Diana. Seketika aku meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarku. "Tolong bilangin ke mereka ya bang kalau aku udah tidur." Tanpa menunggu jawaban Kak Rio, kakiku berjalan begitu aja.
Aku tengok dari jendela kamar Kak Rio menghampir mereka di ujung gerbang rumah. "Eh kak Rio. Malam kak." ucap Chika basa-basi. "Cari Tyak ya?" "Iya kak, Tyak nya ada kan kak?" "Ada sih Di, tapi dia lagi ngga mau di ganggu." jawab Kak Rio dengan wajah menyesal. "Hmmm yaudah kak, mungkin tyak capek. Kalau gitu kita pamit pulang ya kak." "Maaf ya Chika, Della, Diana."
***
"Semalem kita ke rumahmu lho, Kak Rio bilang kamu lagi ngga mau diganggu." "Kamu kenapa sih Tyak?Ada masalah sama Stevan?" Turun dari mobil aku dicerca oleh pertanyaan pertanyaan dari Chika, Della, Diana. Aku terus berjalan, mengabaikan omongan mereka. Menatapnya pun tidak.
Hubunganku dengan sahabat-sahabatku semakin menjauh, karena diriku yang masih terpuruk. Kini gantian Stevan yang menghambat perjalananku menuju kelas. "Pagi sayang." Sapanya manis. Tapi nasibnya sama seperti ketiga sahabatku tadi. Dia tak menyerah dan terus mengejarku. "Sayang kok diem sih? Nanti pulang bareng yaa. Aku tunggu di parkiran."
Aku tetap tak memperdulikannya. Hatiku menangis melihat usaha Stevan, kalau saja Stevan tau keluargaku bermasalah apa dia masih mau usaha seperti ini? Batinku penuh isak.
Bel pulang sekolah berdetak, aku segera beranjak dari bangku kelas sebelum tiga sahabatku datang menghampiri.
Di depan gerbang aku melihat Stevan sudah berbaris di depan mobil kesayangannya. Untungnya dengan tepat mobil Kak Mario datang menjemputku. Aku berjalan tanpa menengok wajah Stevan sedikitpun.
"Tadi Stevan kan?" "Heem"jawabku dengan membubuhi anggukan. "Kamu mau pulang bareng dia? Wah abang salah dong jemput kamu." Aku menggeleng tegas.
Aku dan Kak Rio memutuskan untuk mampir ke caffe di salah satu mall, sekalian jalan-jalan. Sedikit-sedikit bebanku hilang, berkat Kak Rio. "Dek, ngga seharusnya kamu ngehindar dari mereka, dari Stevan, Chika, Della, Diana. Mereka ngga salah, justru mereka peduli sama kamu." Aku hanya tertunduk membisu. "Abang mohon kamu jangan kayak gini. Abang ngga marah sama kamu cantik, abang bangga kalau kamu bisa kayak dulu lagi, meskipun sulit." Aku tetap membisu, kali ini menatap kak Rio penuh haru. "Habis dari sini kamu hubungi mereka ya." Kata kak Rio sembari memegang pipiku, menenangkan. Dia menyemangatiku hari ini, memulihkan hatiku, menutupi masalah yang sedang terjadi supaya perlahan berlalu. Setelah makan, kita beranjak untuk nonton berdua. Berniat menghabiskan waktu.
Sesampainya di rumah aku teringat pesan Kak Rio di mall tadi. Dan hubunganku dengan Stevan dan ketiga mulai mebaik.
***
Setengah bulan sehabis pergi dari mall dengan Kak Rio, aku mulai sering menghabiskan waktu dengan Stevan ataupun dengan ketiga sahabatku, berusaha menghibur diri.
Hari ini aku dan Stevan janjian pergi ke mall, jalan-jalan, makan, bermain, hingga sore. Dia menghantarku pulang ke rumah.
"Makasih ya sayang buat hari ini." Kataku setelah sampai di depan rumah. "Urwell sayang." "Aku masuk dulu yaa."
Kakiku melangkah menuju rumah diiringi dengan senyum riang di pipiku. Kakiku terus bergerak menuju kamar. Sesampai di kamar, ku rebahkan tubuhku sejenak di ranjang. Langkah Kak Rio sontak membangunkanku dari ranjang. "Hiiihhhh abang ngagetin deh!" Ocehkku kesel. "Yaaa habisnya masuk rumahnya ngga permisi." Aku hanya nyengir bak kuda kegirangan. "Dih seneng banget kayaknya. Habis pergi yaa ama Stevan." Goda kak Rio. "Apaan sih bang." Pipi tomatku mulai berhamburan. "Ooo iya dek, abang mau ngomong." Nada suara kak Rio mendadak berubah. "Apa bang?" "Abang kan udah setengah bulan ninggalin kuliah abang di Yogyakarta, tadi abang di telvon pihak kampus. Lusa abang di minta kudu balik ke kampus. Kamu mau gimana?" Aku hanya terdiam cengo mendengar ucapan Kak Rio. "Udah setengah bulan kita gatau kabar mama, dan papa pun ngga pernah pulang entah ke mana." Kak Rio menghadapkan tubuhku ke arahnya. "Dek, abang khawatir sama kamu, abang ngga mungkin ninggal kamu di sini sendirian, tapi abang juga kudu kuliah. Kamu ikut abang aja ya." Aku membisu, menatap Kak Rio penuh nanar. "Engga bang, aku ga bisa ikut abang. Aku kudu sekolah juga di sini. Abang ngga perlu khawatir, aku bisa jaga diri kok." Ku berikan senyum sumbangku untuk kak Rio. "Dek, meskipun papa dan mama ngga peduli sama kita, tapi inget ada abang yang peduli sama kamu. Kamu ngga sendirian kok, abang sayang sama kamu." Tanpa aba-aba aku memeluk Kak Rio erat, air mataku pun pecah dipelukan kak Rio.
***
Hari ini hari kepulangan kak Rio ke Yogyakarta, sedih, berat, rindu, sepi. Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kak Rio. "Dek, abang balik dulu ya. Kamu janji bakal jaga diri di sini." "Iya bang janji."jawabku sembari senyum menahan tangis. "Bye.. Abang sayang kamu." Abang memilih naik taxi untuk sampai ke stasiun, dia enggan menerima tawaranku untuk mengantarnya. Taxi kak Rio sudah melaju menjauhi rumah. Aku berlari menuju kamar, dan menangis sekencang mungkin.
Kini aku harus memulai hidupku yang baru, hidup tanpa mama, papa, dan jauh dari abang. Dan aku bener-bener sendiri di rumah. Sepi.
Dengan malas aku melajukan mobilku ke sekolah, tak bersemangat. Sampai di sekolah kuturunkan kakiku dengan malas,sangat malas. Seketika itu juga aku merasa semua penghuni sekolah menatapku sinis, sembari berbisik satu sama lain. Aku mencoba tak peduli, menutu telinga dengan earphone dan terus berjalan lurus menuju kelas.
Tak ku sangka tatapan itu ikut menghantarku menuju kelas. Sampai di kelaspun tatapan itu tak berhenti begitu saja. Aku tak melihat Stevan, yang biasanya selalu menghadangku tiap pagi, dan ketiga sahabatku pun ikut menatapku sini. Aku heran tak mengerti, sampai akhirnya ponselku bunyi, ternyata notif dari twitterku. Belom sempat membukanya, Vina anak kelas sebelah yang kebetulan lewat kelasku nyeloteh. "Tyak bener sekarang kamu broken home? Katanya ada orang ketiga ya." Jatungku berdetak kencang tak berirama. 'Ya Tuhan dari mana mereka tau semua ini, aku berusaha menutupinya.' batinku. Aku terus berusaha menahan air mataku. Aku mengurungkan niatku untuk membuka twitter, karena inilah jawabannya mereka menatapku sinis. Aku meraih tasku dan berlari menuju mobil. Dengan isak tangis yang pecah kulajukan mobilku menuju rumah. Sampai di rumah aku menangis sejadi- jadinya.
***
Tiga hari sudah aku tak berangkat ke sekolah, tak ada yang mencariku, atau hanya sekedar bertanya. Aku benar-benar sendiri. Aku rindu papa, mama, abang, andai mereka ada di sini.
Aku hanya mengurung diri di kamar, nonton tv, main sosmed, ngemil, hanya itu kerjaanku di rumah. Aku terdengar bel rumahku berdering. Mukaku bingung, karena aku fikir siapa yang akan bertamu malam-malam gini. Karena jam sudah menandakan pukul sebelas malam.
Aku berlari kecil menuju pintu depan rumah. Mataku terbelalak, mulutkupun ikut-ikutan. Seorang pria gagah dengan tinggi sekitar 178cm sedang berdiri di rumahku. "Papa..." Teriakku girang. Hampir saja aku ingin menghampiri papa dan memeluknya, tiba-tiba seorang wanita dengan mini dress nya keluar dari belakang punggung papa. Aku membisu. "Hallo sayang."sapa papa sembari mengusap rambutku, lalu merangkul wanita itu dan mengajaknya masuk ke rumah tanpa menjelaskan padaku. Kembali air mataku berguguran dengan kaki yang kaku tak mampu untuk berjalan, lemas rasanya.
Aku mengusap pipiku yang penuh dengan air mata, menutup pintu, dan kembali ke kamar. Aku semakin jijik melihat kelakuan papa, terang-terangan mereka bermesraan di depanku, tanpa mikir perasaanku. Dadaku penuh sesak, ingin teriak. Aku berlari ke kamar ganti baju dan mengambil jaketku, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
***
Ya, ini memang bukan sifatku keluyuran tengah malam. Tak ada pilihan, aku sudah terlalu enek dengan kelakuan mereka.
Sekarang aku ngga tau mesti ke mana, sudah sejauh ini aku berjalan. Tak ada yang mau menampungku. Sepanjang langkahku selalu diiringi dengan tangisanku. Sedih, luka, nanar, sakit. Aku berhenti di sebuah jembatan, aku berteriak dan menangis sekencangnya. Aku tak perduli orang menganggapku apa, karena mereka tak mengerti, fikirku. Sampai akhirnya ada sebuah mobil berhenti tepat di depanku yang kini tengah duduk tersungkur di jembatan. Seorang pria turun dari mobil itu, dan berjalan menuju arahku. "Mba..mba kenapa? Kok nangis sendirian di sini." Aku enggan menjawab dan terus terisak dalam tangisan. "Mba ikut saya aja yuk, bahaya di sini." Tanpa babibu aku meng-iyakan tawarannya. Aku tak mengerti ke mana ragaku ini akan dibawa.
Tak lama kemudian mobil ini berhenti di tempat yang asing menurutku. "Ini di mana?" Jawabku lebih tenang. "Ohh hey, aku Dewa." "Tyak. Ini di mana?" "Di club." "Ha?? Engga deh aku mau pulang aja." "Ini udah malem, bahaya lho di jalan." Melihat jalan yang semakin sepi, aku jadi mengurungkan niatku untuk pulang.
Berisik. Itulah yang terjadi di sini. Tak ada satupun wajah yang aku kenal. Sangat asing. Tapi tunggu dulu ada wajah yang nampaknya tak asing untukku. Tasha, kelas XII IPS2. Siswi hitz di sekolahku. Dia nampak akrab dengan Dewa, pria yang mengajakku tadi.
"Eh lu Tyak kan?" Aku hanya tersenyum sumbang. "Kalian saling kenal?" Tanya Dewa. "Iyalah dia temen satu sekolah gue. Eh Tyak lu ngga salah tempat?" "Hehe iya nih kayaknya. Dewa balik yuk!" "Udah nanti aja, nanggung tauk."
Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi denganku semalam. "Tyak bangun!! Kamu ngga sekolah?" Aku mendengar suara itu, tapi kepalaku terasa berat untuk bangkit. Aku melihat wajah Tasha samar-samar di pelupuk mataku. Perlahan aku bangkit,dan bersadar di punggung ranjang. "Kamu ngga sekolah?" ulang Tasha. "Hmmmm, kayaknya aku ijin deh kepalaku pusing banget. Ooo iya kok aku bisa di sini sih???" "Yaudah kamu istirahat di sini aja. Kamu semalem kebanyakan minun tauk, udah ya aku berangkat dulu." "Ha???" Sontak aku cengo mendengar penjelasan Tasha. 'Aku minum? Ya Tuhan.' Bantinku penuh penyesalan. Aku berniat untuk pulang, karena tak enak lama-lama di sini. Apalagi aku tak begitu dekat dengan Tasha. Tapi kenyataannya kondisi enggan menuruti anganku. Aku memutuskan beristirahat di sini.
Tak sadar aku sudah terlalu lama tidur, aku melihat seorang gadis berambut hitam ikal panjang, dengan tanktop hitam yang mengantung di tubuhnya. "Tasha udah pulang?" "Hmmm dispensasi dadakan. Oo iya keadaan lu gimana?" "Udah mendingan kok."Jawabku sembari menunjukkan senyum simpul. "Syukur deh. Ooo iya kenapa lu berkeliaran semalem? Itu bukan lu banget." "Iya kamu bener, itu bukan aku banget. Tapi kamu tau kan masalahku sekarang? Masalah keluargaku, masalah orang tuaku? Mama pergi entah ke mana, papa ngga pernah pulang, bang Rio kuliah di Yogyakarta, di rumah aku kesepian, sendiri. Aku fikir di sekolah aku sedikit terhibur dengan adanya temen-temen, Della, Chika, Diana ama Stevan. Kenyataannya mereka semua ikut pergi. Aku bener bener sendiri." Air mataku mulai pecah, dan seketika itu juga Tasha memelukku, menenangkan. "Udah lu ngga usah sedih, sekarang lu ngga sendiri, ada gue di sini." "Thanks Sha, tapi..." "Stevan???" Jawab Tasha cekatan, aku mengangguk pelan. "Tyak, lu tuh cantik, lupain Stevan, banyak cowo yang mau sama lu. Hmmm gw mau ngerubah penampilan lu. Hmmmm sekarang lu prepare habis itu ikut gue." Kata Tasha sembari menarik tanganku. "Tapi kita mau ke mana?" "Udahh yukkk!! "
***
Ternyata Tasha membawaku ke salon. Aku memang terlahir dari keluarga yang berkecukupan, tapi aku tak terlalu suka repot-repot mengurus diriku, bisa dibilang cuek dengan penampilanku. "Kita mau ngapain?" Tasha tak menjawab ocehanku.
Ini yang membuatku malas pergi ke salon, menunggu. Hal itu sangat membosankan menurutku. Sudah satu jam aku beradaptasi dengan bangku di salon, terkadang harus digiring ke sana ke mari. Dan selesai, aku kaget melihat rambutku yang tampak seperti rambut jagung, sangat berbeda dengan sebelumnya, hitam dan berkilau.
"Duh cantiknya." "Tasha ini apaan? Kenapa ngga bilang kalau rambutku diwarnain?" Protesku. "Tyak sayang itu lagi trend. Udah nurut aja, pasti banyak cowo yang kecantol." Aku berusaha meng-iyakan omongan Tasha, meskipun sedikit tak rela. Tanpa aba-aba Tasha mengajakku ke sebuah butik dan membelikanku sepasang blous katungan dan rok mini. Setelah selesai menyelesaikan pembayaran Tasha memaksaku untuk mengenakannya. "Nih kamu ganti baju." "Sha? Aku pakai rok ini?" Tasha mengangguk tegas. Baru saja aku ingin membuka mulut berniat untuk mengelak, tapi Tasha mendorongku ke bilik toilet.
Kini aku sudah berbalut blouse putih di dampingi dengan rok mini motif warna putih. Tampak beda. Aku tak melihat sosok diriku. "Wow cantik banget tuan putri." Puji Tasha. "Kita mau ke mana lagi?" Tanyaku bingung. "Makan yuk. Laper." Kita mengalihkan kaki menuju sebuah cafe yang cozy. Aku menatap Tasha seolah sedang mencari sesuatu.
"Dewa!!!!!" Teriak Tasha. Aku seketika tersedak mendengar nama itu disebut. Ya benar saja, wajah Dewa yang manis diimbuhi badan yang atletis kini tengah duduk di sampingku. "Tyak? Ini elu?" Aku hanya tersenyum sumbang.
. ***
"Tyakkk!!" Suara Tasha sudah terdengar di ambang pintu. Ya, karena hari ini aku berangkat dengan dia. "Iya bentar." Tak selang berapa lama aku menampakkan wajahku di depan Tasha. Terlihat mimik wajah yang aneh, dan turun dari mobil sembari menyondorkan sebuah seragam. "Apaan nih?" "Udah buruan ganti" Aku meng-iyakan permintaan Tasha. Aku kembali menampakkan diriku di ambang pintu, kali ini dengan seragam super mini dan super ketat. Sangat ngga nyaman. "Yuk berangkat." Ajak Tasha.
Sedari tadi aku beruasaha menurunkan rokku yang terlalu pendek. "Nanti juga bakal terbiasa kok. Lu harus buktiin ke mereka, kalau lu engga lemah." Jelas Tasha menenangkanku.
Benar saja, ketika aku menurunkan kaki dari mobil, semua mata menatapku. "Tutup telinga, jalan lurus ke depan." Bisik Tasha lagi-lagi menenangkanku.
Semua mata terlihat menatapku, aku berusaha tak perduli. Sesekali dalam langkahku diiringi siulan dari siswa yang bermaksud menggodaku.
Aku melihat Chika, Diana dan Della sedang bersendagurau di sudut kelas. Aku berusaha mendekati mereka. "Hai." Belum mereka menjawab sapaanku mereka pergi menjauh. Aku mencoba sabar kembali ke bangku ku dengan langkah gontai.
***
Sepulang sekolah aku melihat sebuah mobil sedan merah yang nganggur di depan gerbang sekolah. Terlihat tak asing. Ya, mobil Dewa. "Sha kok ada Dewa?" tanyaku polos. "Oo iya sorry nih Yak, lu balik bareng Dewa dulu ya. Gue ada urusan soalnya. Ngga masalah kan?" "Engga kok."
Ku alihkan langkagku menuju mobil sedan yang sedari tadi menungguku. "Hai." Sapanya ketika aku menyondorkan tubuhku ke dalam mobil. "Sorry ya lama." "No problem." Kita lebih memilih saling bungkam. "Kita mau ke mana?" Sontak aku bertanya ketika mobil yang aku tumpangi lewat jalan asing. Belum dia sempat menjawab, mobilnya sudah berhenti di depan rumah mewah. "Sampai." Katanya cheerful. "Ini rumah siapa?" "Rumah aku." Aku tak banyak bertanya, dan mengikuti langkah Dewa menyusuri rumah itu. Sepi. Sangat sepi. Sama seperti istanaku. "Kok sepi?" Tanyaku membuka pembicaraan. "Emang." Jawabnya singkat. "Pada ke mana?" "Ke luar kota." Aku membulatkan mulutku sembari mengangguk mengerti.
Kita banyak bercanda, tapi sebelum suasananya menjadi berubah. Ada makhluk ketiga yang merasuki kita. Aku tak mengerti apa yang ada difikiranku. Semuanya mengalir. Tanpa ada rasa takut ataupun cemas. Semenjak itu hubunganku dengan Dewa semakin dekat, hampir setiap hari aku main ke rumah Dewa, atau sering menghabiskan waktu bersama, meski kita ngga tau apa status kita. Bahkan aku sering menginap di rumah Dewa.
Entah kenapa semanjak ada Dewa dan Tasha aku merasa punya dunia baru, tak kesepian lagi. Tak pernah merasa sendiri, kita tertawa, bercanda. Seakan aku lupa dengan masalahku. Aku tak pernah pulang ke rumah lagi, aku lebih sering pulang ke rumah Tasha ataupun Dewa, ya karena memang papa sekarang tinggal di rumah bersama wanitanya.
Tapi hubunganku dan Dewa tak berlangsung lama, Dewa tiba tiba menghilang. Tak pernah pulang ke rumah, tak bisa dihubungi lagi, tak pernah nongol di club lagi. Semenjak itu aku tak lagi tinggal di rumah Dewa, menghabiskan waktu di rumah Tasha.
Aku tak sedih dengan kepergian Dewa, karena Tasha mengenalkanku dengan pria pengganti Dewa. Dio, Tyo,Bayu, Redo, Surya, Bimo, Gilang, dan entah siapa lagi. Sama seperti hubunganku dengan Dewa, hubunganku dengan pria-pria yang dikenalkan Tasha juga tak berlangsung lama, dan gaya pacarannya pun sama, terlalu kotor dan dewasa. Lebih sering pergi ke club, dan menginap di rumahnya.
***
Hari wisuda tiba, tak terasa masa putih abu-abu ku telah usai. Aku mencoba mencari sahabat-sahabatku. "Della.." Aku mendekati Della yang sedang duduk seorang diri. Aku peluk dia, begitu erat. Karena sungguh aku merindukan mereka. Tak lama kemudian, bahuku terasa terhentak keluar dari pelukan Della. "Chika, Diana." panggilku. "Ngapain?? Maaf ya, kita ngga punya sahabat yang brutal kayak kamu. Kita ngga tau udah ngapain aja kamu sama cowo-cowo itu." Ujar Diana menusukku. "Maaf ya, kita orang baik-baik. Kita gamau salah teman." Tambah Chika. Mereka pergi meninggalkanku yang berderai air mata. Seketika itu juga Tasha datang memelukku. "Ngga usah dengerin, mereka bukan sahabatmu lagi. Biarkan mereka pergi. Kamu ngga sesedih itu kok" Aku berfikir keras dengan ucapan Tasha.
20 tahun sudah usiaku, kehidupanku masih sama seperti 3tahun terakhir ini, hitam, kelam. Selalu berkelut dengan dunia malam. Aku masih enggan melanjutkan studyku, di saat yang lain sudah update di sosmed tentang kampus baru mereka.
Aku sudah sangat lelah. Lelah dengan hidupku yang jatuh. Gonta ganti pacar tak jelas, gaya pacaran yang sangat ubnormal, clubbing tiap malem, menghambur- hamburkan uang tak jelas. Sudah tak tahu apa itu Tuhan, di mana tempat ibadah itu. Aku lelah dengan duniaku yang tak dihargai, dianggap remeh karena ulahku. Tak pernah dianggap penting. Tubuhku pun tak sempurna lagi.
Aku selalu berfikir, akankah ada orang yang benar benar tulus menerimaku yang sudah tak sempurna. Yang mencintaiku karna Tuhan, bukan nafsu belaka.
Mendadak aku rindu mama, papa, kak Rio, sahabat-sahabatku. Andai mama dan papa tak berpisah, aku tak akan mencari-cari duniaku. Aku rindu mereka, rindu kehidupanku yang dulu. Kehidupanku yang polos, yang hanya mengenal cinta Stevan, meski dia meninggalkanku dan pergi dengan wanita lain disaat dia mendengar masalah dikeluargaku.
Aku lelah dengan mereka yang datang hanya untuk mampir sebentar sekedar menikmati kesenangan, setelah itu pergi dengan menyisikan luka. Sekilas aku merasa terhibur dengan kedatangan mereka, tapi kini aku sadar mereka membawa kebaikan yang berujung kematian untukku. Aku benar-benar merasa kotor. Bagaimana kalau kak Rio tau? Apa dia masih sayang sama aku? Batinku. Serasa hidupku ingin berhenti disini.
***
Aku memutuskan untuk meninggalkan rumah Tasha tanpa berpamitan, tak sopan memang. Tapi ini lebih baik.
Entah sejauh apa kaki dan air mataku melangkah. Sampai aku berujung ke jembatan, ya jembatan yang waktu itu menampung tangisku ketika pergi dari rumah. Sekarang jembatan ini pulalah yang lagi-lagi menampung derasnya air mataku yang penuh nanar karena kotornya hidupku.
Lagi-lagi seketika aku menangis, duduk tersungkur seorang diri di dinding jembatan, sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Takut, itu yang menyelimuti perasaanku. Takut jika dia sejenis dengan Dewa, dan membawaku ke dunia yang jauh lebih hitam.
Seorang pria dengan penampilan rapi turun dari mobil, kemudian menghampiriku. "Kamu kenapa menangis sendirian di sini?" Tanyanya tanpa menyentuhku sama sekali. Aku hanya diam ketakutan, sembari menggeserkan posisi dudukku menjauhinya. "Maaf, kamu ngga perlu takut. Aku ngga akan ngapa ngapain kamu." Aku sedikit luluh dengan ucapannya, dan meng-iyakan ajakannya.
Dia memapahku menuju mobilnya, karena memang kondisi tubuhku yang lemas akibat terlalu lama menangis dan terlalu jauh berjalan. Dia melajukan mobilnya, ke jalan yang asing buatku. Nafasku sedikit lega ketika mobilnya memasuki gapura yang bertuliskan "KAPEL ST. YOHANES PEMBAPTIS" Dia katolik. Batinku. Sungguh indah, kapel yang memiliki keindahan, terletak di daerah dataran tinggi, dengan pemandangan yang indah, diiringi sun rise yang mambubuhi indahnya pemandangan di situ. Aku tak berhenti terkagum-kagum dengan tempat ini.
Dia mengajakku ke kedai teh yang berjarak 50 meter dari samping kapel, dan menghadap langsung ke arah pemandangan tadi. "Setiap sabtu pagi aku selalu ke sini." Ucapnya membuka obrolan. "Aku Johanes. Panggil aja Johan." Lagi-lagi dia berusaha membuka obrolan. "Tyak." Jawabku singkat, sembari sesekali menyedu teh hangat yang aku pesan tadi. Kita saling bungkam, hingga akhirnya gantian aku yang membuka obrolan. "Tempatnya bagus ya.." dia mengangguk pelan, kemudian hening kembali. "Ehh udah waktunya nih, maaf kamu muslim?" Tanyanya. "Katolik." Jawabku singkat. "Mau ikut masuk? Ibadatnya udah hampir mulai." Deg, jantungku seakan mendengar ajakannya. Dengan cepat aku mengaangguk menerima ajakannya.
Aku menangis, ketika aku kembali ke rumah Tuhan. Hatiku terasa sejuk. Sepanjang ibadat air mataku tak kunjung menghentikan aktivitasnya.
Seusai ibadat kita memutuskan untuk kembali ke kedai tadi. "Tadi kenapa pas di kapel kamu nagis?" Tanyanya membuka pembicaraan. "Aku udah lama ngga ke rumah Tuhan." Jawabku penuh haru. "Kenapa?" "Aku terlalu asik dengan kenikmatan dunia, sampai lupa akan agamaku bahkan sampai kehilangan imanku." "Maksudnya?"
"Ya semenjak orang tuaku berpisah, dan papaku punya wanita lagi, rasanya hidupku hancur. Diikuti dengan perginya sahabat-sahabatku dan pacarku semenjak masalah dikeluargaku sampai terkuak di sekolah. Aku pergi dari rumah, dan aku bertemu dengan orang orang baru. Aku tertawa bareng mereka, mereka buat aku tak kesepian lagi. Tapi aku salah, aku baru sadar, tawa itu pada akhirnya mematikanku. Mereka datang dan pergi, meninggalkan bekas yang tak bisa dipulihkan. Aku sudah tak sempurna, hidupku kelam dan hitam." Jelasku, sontak dia memelukku, mengusap rambutku menenangkan. "Sekarang aku ngga tau, apa Tuhan mau memaafkanku, apa aku akan punya pendamping hidup yang mencintaiku karena Tuhan? Terdengar egois memang, tapi aku lelah dengan mereka yang hanya memanfaatkanku, yang tak pernah tulus." Imbuhku. "Tuhan tak akan menolak anak-Nya yang ingin datang kembali pada-Nya. Tuhan akan bangga. Dan memang itu terdengar egois, tapi ingat tak ada yang mustahil bagi Tuhan." Hatiku menjadi nyaman mendengar dia berucap.
***
Semakin lama aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Johan, ke gereja, kegiatan sosial, dan kegiatan positif lainnya.
Sepulang dari gereja, dia mengajakku untuk makan di sebuah restaurant. Sembari menunggu pesanan datang, kita mengobrol untuk mengisi keheningan. "Ehh besok abang aku datang." "Ohh ya?kebetulan banget." "Haa?? Kebetulan gimana?" "Ya kebetulan ada yang mau aku omongin ke dia." "Ngomong apaan?" "Aku mau ngomong kalau aku mau serius sama ama adiknya." "Bercandanya norak deh." "Tyak, aku ngga lagi bercanda." Aku cengo mendengar ucapan Johan yang tak memasang tampang bercanda sedikitpun. "Tyak, aku sayang sama kamu. Entah dari kapan. Semenjak aku sering ke gereja bareng kamu, berdoa bareng kamu aku ngerasa itu moment istimewa." "Tapii.. " "Aku ngga peduli dengan masa lalumu, semua orang punya masa lalu. Entah baik entah buruk. Toh aku hadir semuanya belum terlambat. Yang terpenting kehidupanmu yang sekarang. Setiap orang punya kesempatan." Aku menatap Johan penuh haru. Terimakasih Tuhan atas kesempatan ini.
***
Hubunganku dengan Johan semakin serius, keluarganyapun menerimaku dengan ramah. Sampai ini tujuan hubungan kita.
Aku bersyukur dengan pria yang selama ini menemaniku, membalikkan arah hidupku, yang mencintaiku karena Tuhan, yang menjadi pria yang beda dari yang sebelumnya. Yang kini sedang berdiri di sampingku, dengan jas yang menggantung ditubuhnya dan mengucap janji suci di depan romo. Yang membuat ornag-orang yang aku sayang berkumpul di sini. Mama, papa, Kak Rio. Meski tak ada sahabat-sahabatku.
Air mataku terjatuh mengenai gaun putih mewah yang membalut tubuhku. Sembari mengenakan cincin dijariku, mencium keningku dan mengucap 'I LOVE YOU'. Kembali aku menangis ketika duduk tersungkur di pangkuan mama. Aku peluk kedua orang tuaku penuh haru, suasana yang aku rindukan selama ini. Sempurna sudah hidupku, ketika dia resmi menjadi pendampingku.
•SELESAI•