Minggu, 06 September 2015

Rambut Jagung yang Kotor

        "Happy Birthday to you..." Yeee 17 tahun sudah Tuhan memberikan nafas untukku, Tuhan menuliskan cerita dihidupku. Di tempat ini, di hotel ini tampak semu keceriaan dari wajah-wajah yang tak asing bagiku. Mama, papa, kakak, Chika, Della, Diana, Stevan , serta teman temanku yang lain. Ya, merekalah orang orang special dihidupku, yang turut serta memeriahkan alur ceritaku.

        Pesta masih berlanjut, alunan musik yang terus berdetak. Ketika musiknya mulai beralih ke genre akustik, aku dan Stevan ikut beralih ke tempat yang sedih lebih hening. " Sayang, i am sorry i can't bring you a gift. " Kulihat matanya nampak nanar, raut wajahnya pun menandakan kekecewaan. " No problem bee. Dengan waktu yang kamu kasih ke aku, itu sudah kado teristimewa buat aku," ucapku menenangkannya. Tampak senyum manisnya mengambang di sela-sela sudut bibirnya yang manis.

        Ya, dia Stevanus Putra Widjaya. Kekasih yang selalu aku banggakan, kekasih yang menyuportku kemanapun langkahku berada,selama itu benar tentunya. Kekasih yang menduduki bangku sekolah  Katolik, jurusan IPA  selama 6 semester ini. Tentunya kekasih yang di harapkan kaum hawa,mungkin. Bagaimana tidak, kulitnya yang putih langsat, hidungnya yang mancung bak paruh  burung gereja, kegemarannya bersosialisasi membuat kaum hawa histeris ketika bertegur sapa dengannya.
       
                             ***

        Turun dari mobil sudah biasa rasanya mendapat sambutan sambutan tatapan-tatapan tajam dari penjuru sekolah. Entah apa salahku, aku berusaha cuek dan enggan mengurusi. Tak lama kemudian tiga  wajah yang tak asing menyabar tubuhku. "Della, Diana, Chika. Sakit tauk!" "Kelas yuk cubby," ajak Diana. Hmmm emang sih, pipiku termasuk golongan cubby.

        Pintu kelas sudah melambai menyambut kedatangan kami. Kaki hendak melangkah, namun apa daya sang pangeran menghadang perjuangan kami. "Morning sayang."  Sapanya lembut, sembari membubuhkan senyum termanis, ya manis banget. "Kok kamu malah di sini, ngga ke kelas?" "Habis ini, mau liat kamu dulu." Pipi tomatku mulai beraksi, tapi aku bergegas menghapusnya demin menahan rasa malu. "Udah ah sana ke kelas aja, aku mau lewat. Minggir!" Bentakku. "Ngga usah salting gitu lah." Aku tetap melangkah seolah-olah tak mendengar ucapannya.

        Baru pergantian jam terakhir, kebetulan gurunya lagi izin, anaknya sakit katanya. Seharian ini aku enggan beranjak dari tempat dudukku, dan masih asik bergelut dengan tugasku. Dan tak tampak wajah Stevan menengokku, tapi aku tak mau ambil pusing soal itu. Aku sempatin menengok conection dihandphoneku. 30BBM dari Stevan. "Stevan apaan sih?Kurang kerjaan." Batinku. "Sayang, nanti pulang sekolah tengok ke lapangan ya, tapi tunggu aba-aba dari aku." Sebenernya messagenya  cuma segitu, hanya saja dia ngeresend sampe 30kali. Alay memang.

        Bel pulang sekolah berdetum. Nampak aneh, yang biasanya tiga angels ku menarik-nariku bak kuda yang malas untuk berjalan, kini mereka pergi tanpa menghiraukanku.

        Kini aku menjadi satu-satunya penghuni kelas, semua hilang, semua pergi. Sepi. Sekilas aku tengok ponselku, dan itulah kegiatanku selama hampir satu jam. Tapi tak ada satupun pesan ataupun BBM dari Stevan. Baik aku memutuskan untuk balik, karena emang udah capek seharian sekolah. Baru aja mau meraih tasku dari atas meja, ponselku berdering. Telvon dari Stevan ternyata. "Hallo, lama banget sih! Aku mau pulang ah!" Bentakku. "Maaf sayang, jangan pulang dulu dong. Sekarang kamu ikutin aba-aba aku ya. Kamu jalan keluar kelas, kamu berdiri di depan kelas dengan jarak satu meter dari tembok balkon  yang di depan kelas." "Udah nih." "Sekarang kamu pejamkan mata." "Hihhh mau ngapain sih, di atas udah sepi tauk." "Bawelnya nanti aja yank." Tanpa ngejawab aku ngikutin arahan sang sutradara. "Hitungan ke lima buka mata ya." Aku cuma diam, dan dia mulai berhitung bak anak TK yg belajar berhitung. Aku mendengar suaranya menyebut angka lima, ya mataku membuka perlahan. Mulutkupun ikut membuka seketika melihat apa yang mataku lihat. Sekumpulan balon yang menerbangkan kain bertulis kan "Happy Birthday Agatha Tya Susanto." Ya, tertulis namaku di situ. Setitik air jatuh menggenang di pipi. Speechless. Stevan memang romantis, sangat romantis malah. Tiba tiba dia sudah memelukku dari belakang, tanpa aba-aba segera kuhapus jejak air itu, malu. "Diihh yang nangis pake dihapus, malu yaaa." Bisiknya genit.

                             ***

        Setelah surprise itu, Stevan mengantarku pulang. Seperti biasa di parkiran aku nemu jenis mata yang sirik melihatku dengan Stevan, apalagi setelah kejadian tadi. "Kenapa sih mereka slalu ngeliatin aku kayak gitu?" "Udah biarin aja."  Jawab Stevan cuek, sembari menyuruhku masuk ke mobilnya.

        "Maaa... Aku pulang." Teriakku bermaksud memberi aba-aba. Tak ada jawaban, bahkan berasa tak berpenghuni. Aku naiki anak tangga menuju ke lantai dua, letak kamar keluargaku. Aku mendengar suara isak tangis yang sengaja ditahan. Ternyata dari kamar orang tuaku. "Mamaaaa!!!" Teriakku sembari berlari  memeluk mama yang menangis memegangi pipinya. "Mama kenapa nangis?" Mama hanya menangis, dan enggan menjawab. Aku meraih tangan mama yang sedang menutupi pipinya. Mama mengelak dengan mendorong tanganku, dan tangisannya semakin menjadi.

        Nampaknya mama tertidur di pelukanku, mungkin mama lelah terlalu lama menangis. Kuhantarkan tubuh mama menuju ranjang. Mulutku menganga kembali, kali ini bukan karna terharu bahagia, namun karena kaget. Ya, aku kaget melihat tubuh mama penuh dengan luka lebam. 'Apa ini ulah papah? Tapi papah yg ku kenal tak seperti ini.' Bantin tangisku. Kucium kening mama penuh haru, kuselimuti tubuhnya lalu kubiarkan terlelap.

       Empat bulan berlalu, selama itu juga aku sering mendengar papa dan mama beradu mulut, sangat keras sehingga membuat tangisku pecah di dalam kamar. Takut, sedih, pengen berontak, itu yang aku rasakan. Tapi kenyataannya aku cuma bisa diam tanpa bertindak. Sering aku mendengar suara pukulan, dan memang aku melihat bekas luka ditubuh mama semakin banyak.

                            ***

        Semenjak kejadian itu di sekolah aku menjadi engga untuk bicara, lebih memilih bungkam. "Tyak, kantin yuk!" Ajak Diana. "Males!" Jawabku ketus, lalu meninggalkan mereka. "Tyak kenapa sih jadi jutek gitu?" "Tauk tuh Di, dia beda banget beberapa hari ini." Jawab Della.

        "Sayang." sapa Stevan. Aku hanya diam dan semakin enggan untuk menjawab, aku tau ini usaha Della, Diana dan Chika untuk membuatku bicara. "Beberapa hari ini dia nggamau ngomong."jelas Chika. Aku melihat raut wajah mereka yang prihatin, tapi mereka cuma bisa prihatin tanpa mengerti yang terjadi. Apalagi Stevan, dia paling gasuka keluarga broken home, walapun papa dan mama belum cerai tapi aku takut Stevan bakal pergi ketika tau masalah ini.

        Pulang sekolah Stevan mengajakku makan dulu sebelum mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan aku cuma diam, dan diam. "Sayang kamu kenapa, kok daritadi diem aja." "Aku nggapapa kok." Jawabku singkat, sembari membubuhi senyum sumbang.

        Seusai makan aku langsung mengajaknya untuk beranjak pulang. Karena emang kondisiku yg lagi unmood. "Balik yuk!" ajakku dengan nada rada males. "Iya aku bayar dulu ya." Aku tak berucap lagi dan memilih menunggu di depan mobil.

                            ***

        Sesampai di rumah, serasa ada yang aneh. SEPI. Sangat sepi. "Maaa... Paa.. Aku pulang. Mama di mana?" Aku menggeledah rumah berusaha mencari orang. Tapi aku ngga menemukan orang satupun. Aku menyerah dengan tubuh lesu, di tambah beberapa hari aku tak nafsu makan. Kenyang dengan suara pertengkaran itu,fikirku.

        Aku beralih menuju kamar, teman keseharianku. Aku kaget melihat seorang pria duduk di ujung ranjangku sembari menatap keluar. "Abang." Ya, kak Mario. Kakakku yang sedang melanjutkan study nya di Yogyakarta. Aku tak mengerti kenapa dia tiba-tiba di sini. Aku senang, karena aku rindu sekali dengan abangku.

        Setelah sweet seventeenth ku, aku udah tak bertemu dengan abangku. Aku peluk dia penuh rindu. Tak kusadari pipinya sudah banjir dengan air mata. Dia melepaskan pelukanku, menyuruhku duduk di sebelahnya. "Abang kenapa?"tanyaku bingung. "Kamu tau ngga kenapa abang tiba-tiba pulang?" Seketika aku menggeleng tegas. "Entah kenapa perasaan abang menyuruh abang buat pulang. Abang ngga tau apa yang terjadi di sini, tapi tiap malem abang selalu mimpiin kalian, papa, mama, kamu. Dan bener setelah sampai di rumah abang ngga nemu siapa siapa, abang cuma nemu kertas ini yang digantung di kulkas." Jelas kak Rio sembari menunjukkan kertas yang dimaksud.

        'Tya sayang, selamat siang. Kamu udah pulang sekolah yaa, jangan lupa makan ya! Mama udah siapin makan buat kamu di atas meja. Tya, mama minta maaf. Mama harus ngomong ini. Mama capek nak, kamu tau apa yang terjadi tiap malam, kamu tau apa yang terjadi di tubuh mama. Mama sakit nak, bukan karena memar ini. Mungkin mama masih bisa tahan merasakan memar ini, tapi mama ngga tahan melihat papa kamu bersama wanita lain. Mungkin ngga seharusnya mama bilang ke kamu, tapi mamapun ngga tau harus cerita ke siapa, dan mama pikir kamu cukup dewasa untuk tau. Mama menyerah nak. Maafkan mama. Mama harus pergi, pergi dari kehidupan kamu, dan Mario. Terimakasih jadi malaikat kecil buat mama, terus belajar, jangan nakal. Buat Mario, jaga adikmu ya. Mama sayang kalian. Salam cium. Mama.'

        Air mataku terjatuh dari persembunyiannya. Aku teriak histeris seusai membaca surat itu. Tubuhku melemas, fikiranku tak karuan. Bang Rio memelukku menenangkan. Diapun ikut menangis. "Mama papa jahat bang!" Kataku penuh isak. "Udah kamu tenang dulu."

        Seharian sudah aku terjatuh dalam tangisan, hingga aku tak sadar kalau aku sudah tertidur kelelahan. "Dek.. bangun. Makan dulu yuk!" Aku mendengar panggilan itu, tapi mataku enggan beranjak dari mimpi. "Ayo dek bangunnnn!!!" Mataku mulai menyambut panggilan itu. "Makan dulu yuk!! Matanya gede semua tuh!" Canda kak Mario berusaha menghiburku. Aku hanya menggeleng tegas. Dengan sabar kak Mario mengambil posisi duduk di sampingku. "Dek dengerin abang, kamu boleh sedih tapi kamu ngga boleh nyakitin diri kamu. Abang juga sedih, tapi abang tau kalo abang terus-terusan sedih siapa yang ngejaga kamu?" Aku hanya membisu. "Kamu sayang abang kan?" Aku mengangguk pelan, enggan mengeluarkan suaraku. "Yaudah sekarang makan yuk! Abang udah beliin nasi goreng. Kamu cuci muka terus ganti baju dulu ya, abang tunggu di bawah."

        "Tyaaakkk...Tyaakkkk..." mendengar namaku di sebut, sontak aku dan Kak Rio menghentikan aktivitas. "Ada yang manggil tuh." Aku tau, aku hafal, dan aku kenal suara-suara itu. Ya, Della, Chika, dan Diana. Seketika aku meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarku. "Tolong bilangin ke mereka ya bang kalau aku udah tidur." Tanpa menunggu jawaban Kak Rio, kakiku berjalan begitu aja.

        Aku tengok dari jendela kamar Kak Rio menghampir mereka di ujung gerbang rumah. "Eh kak Rio. Malam kak." ucap Chika basa-basi. "Cari Tyak ya?" "Iya kak, Tyak nya ada kan kak?" "Ada sih Di, tapi dia lagi ngga mau di ganggu." jawab Kak Rio dengan wajah menyesal. "Hmmm yaudah kak, mungkin tyak capek. Kalau gitu kita pamit pulang ya kak." "Maaf ya Chika, Della, Diana."

                            ***

        "Semalem kita ke rumahmu lho,  Kak Rio bilang kamu lagi ngga mau diganggu." "Kamu kenapa sih Tyak?Ada masalah sama Stevan?" Turun dari mobil aku dicerca oleh pertanyaan pertanyaan dari Chika, Della, Diana. Aku terus berjalan, mengabaikan omongan mereka. Menatapnya pun tidak.

         Hubunganku dengan sahabat-sahabatku semakin menjauh, karena diriku yang masih terpuruk. Kini gantian Stevan yang menghambat perjalananku menuju kelas. "Pagi sayang." Sapanya manis. Tapi nasibnya sama seperti ketiga sahabatku tadi. Dia tak menyerah dan terus mengejarku. "Sayang kok diem sih? Nanti pulang bareng yaa. Aku tunggu di parkiran."
Aku tetap tak memperdulikannya. Hatiku menangis melihat usaha Stevan, kalau saja Stevan tau keluargaku bermasalah apa dia masih mau usaha seperti ini? Batinku penuh isak.

        Bel pulang sekolah berdetak, aku segera beranjak dari bangku kelas  sebelum tiga sahabatku datang menghampiri.

        Di depan gerbang aku melihat Stevan sudah berbaris di depan mobil kesayangannya. Untungnya dengan tepat mobil Kak Mario datang menjemputku. Aku berjalan tanpa menengok wajah Stevan sedikitpun.

        "Tadi Stevan kan?" "Heem"jawabku dengan membubuhi anggukan. "Kamu mau pulang bareng dia? Wah abang salah dong jemput kamu." Aku menggeleng tegas.

        Aku dan Kak Rio memutuskan untuk mampir ke caffe di salah satu mall, sekalian jalan-jalan. Sedikit-sedikit bebanku hilang, berkat Kak Rio. "Dek, ngga seharusnya kamu ngehindar dari mereka, dari Stevan, Chika, Della, Diana. Mereka ngga salah, justru mereka peduli sama kamu." Aku hanya tertunduk membisu. "Abang  mohon kamu jangan kayak gini. Abang ngga marah sama kamu cantik, abang bangga kalau kamu bisa kayak dulu lagi, meskipun sulit." Aku tetap membisu, kali ini menatap kak Rio penuh haru. "Habis dari sini kamu hubungi mereka ya." Kata kak Rio sembari memegang pipiku, menenangkan. Dia menyemangatiku hari ini, memulihkan hatiku, menutupi masalah yang sedang terjadi supaya perlahan berlalu. Setelah makan, kita beranjak untuk nonton berdua. Berniat menghabiskan waktu.

        Sesampainya di rumah aku teringat pesan Kak Rio di mall tadi. Dan hubunganku dengan Stevan dan ketiga  mulai mebaik.

                             ***

        Setengah bulan sehabis pergi dari mall dengan Kak Rio, aku mulai sering menghabiskan waktu dengan Stevan ataupun dengan ketiga sahabatku, berusaha menghibur diri.  
        Hari ini aku dan Stevan janjian pergi ke mall, jalan-jalan, makan, bermain, hingga sore. Dia menghantarku pulang ke rumah.

        "Makasih ya sayang buat hari ini." Kataku setelah sampai di depan rumah. "Urwell sayang." "Aku masuk dulu yaa."

        Kakiku melangkah menuju rumah diiringi dengan senyum riang di pipiku. Kakiku terus bergerak menuju kamar. Sesampai di kamar, ku rebahkan tubuhku sejenak di ranjang. Langkah Kak Rio sontak membangunkanku dari ranjang. "Hiiihhhh abang ngagetin deh!" Ocehkku kesel. "Yaaa habisnya masuk rumahnya ngga permisi." Aku hanya nyengir bak kuda kegirangan. "Dih seneng banget kayaknya. Habis pergi yaa ama Stevan." Goda kak Rio. "Apaan sih bang." Pipi tomatku mulai berhamburan. "Ooo iya dek, abang mau ngomong." Nada suara kak Rio mendadak berubah. "Apa bang?" "Abang kan udah setengah bulan ninggalin kuliah abang di Yogyakarta, tadi abang di telvon pihak kampus. Lusa abang di minta kudu balik ke kampus. Kamu mau gimana?" Aku hanya terdiam cengo mendengar ucapan Kak Rio. "Udah setengah bulan kita gatau kabar mama, dan papa pun ngga pernah pulang entah ke mana." Kak Rio menghadapkan tubuhku ke arahnya. "Dek, abang khawatir sama kamu, abang ngga mungkin ninggal kamu di sini sendirian, tapi abang juga kudu kuliah. Kamu ikut abang aja ya." Aku membisu, menatap Kak Rio penuh nanar. "Engga bang, aku ga bisa ikut abang. Aku kudu sekolah juga di sini. Abang ngga perlu khawatir, aku bisa jaga diri kok." Ku berikan senyum sumbangku untuk kak Rio. "Dek, meskipun papa dan mama ngga peduli sama kita, tapi inget ada abang yang peduli sama kamu. Kamu ngga sendirian kok, abang sayang sama kamu." Tanpa aba-aba aku memeluk Kak Rio erat, air mataku pun pecah dipelukan kak Rio.

                           ***

        Hari ini hari kepulangan kak Rio ke Yogyakarta, sedih, berat, rindu, sepi. Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kak Rio. "Dek, abang balik dulu ya. Kamu janji bakal jaga diri di sini." "Iya bang janji."jawabku sembari senyum menahan tangis. "Bye.. Abang sayang kamu." Abang memilih naik taxi untuk sampai ke stasiun, dia enggan menerima tawaranku untuk mengantarnya. Taxi kak Rio sudah melaju menjauhi rumah. Aku berlari menuju kamar, dan menangis sekencang mungkin.

        Kini aku harus memulai hidupku yang baru, hidup tanpa mama, papa, dan jauh dari abang. Dan aku bener-bener sendiri di rumah. Sepi.

       Dengan malas aku melajukan mobilku ke sekolah, tak bersemangat. Sampai di sekolah kuturunkan kakiku dengan malas,sangat malas. Seketika itu juga aku merasa semua penghuni sekolah menatapku sinis, sembari berbisik satu sama lain. Aku mencoba tak peduli, menutu telinga dengan earphone dan terus berjalan lurus menuju kelas.

        Tak ku sangka tatapan itu ikut menghantarku menuju kelas. Sampai di kelaspun tatapan itu tak berhenti begitu saja. Aku tak melihat Stevan, yang biasanya selalu menghadangku tiap pagi, dan ketiga sahabatku pun ikut menatapku sini. Aku heran tak mengerti, sampai akhirnya ponselku bunyi, ternyata notif dari twitterku. Belom sempat membukanya, Vina anak kelas sebelah yang kebetulan lewat kelasku nyeloteh. "Tyak bener sekarang kamu broken home? Katanya ada orang ketiga ya." Jatungku berdetak kencang tak berirama. 'Ya Tuhan dari mana mereka tau semua ini, aku berusaha menutupinya.' batinku. Aku terus berusaha menahan air mataku. Aku mengurungkan niatku untuk membuka twitter, karena inilah jawabannya mereka menatapku sinis. Aku meraih tasku dan berlari menuju mobil. Dengan isak tangis yang pecah kulajukan mobilku menuju rumah. Sampai di rumah aku menangis sejadi- jadinya.

                             ***

        Tiga hari sudah aku tak berangkat ke sekolah, tak ada yang mencariku, atau hanya sekedar bertanya. Aku benar-benar sendiri. Aku rindu papa, mama, abang, andai mereka ada di sini.

        Aku hanya mengurung diri di kamar, nonton tv, main sosmed, ngemil, hanya itu kerjaanku di rumah. Aku terdengar bel rumahku berdering. Mukaku bingung, karena aku fikir siapa yang akan bertamu malam-malam gini. Karena jam sudah menandakan pukul sebelas malam.

        Aku berlari kecil menuju pintu depan rumah. Mataku terbelalak, mulutkupun ikut-ikutan. Seorang pria gagah dengan tinggi sekitar 178cm sedang berdiri di rumahku. "Papa..." Teriakku girang. Hampir saja aku ingin menghampiri papa dan memeluknya, tiba-tiba seorang wanita dengan mini dress nya keluar dari belakang punggung papa. Aku membisu. "Hallo sayang."sapa papa sembari mengusap rambutku, lalu merangkul wanita itu dan mengajaknya masuk ke rumah tanpa menjelaskan padaku. Kembali air mataku berguguran dengan kaki yang kaku tak mampu untuk berjalan, lemas rasanya.

       Aku mengusap pipiku yang penuh dengan air mata, menutup pintu, dan kembali ke kamar. Aku semakin jijik melihat kelakuan papa,  terang-terangan mereka bermesraan di depanku, tanpa mikir perasaanku. Dadaku penuh sesak, ingin teriak. Aku berlari ke kamar ganti baju dan mengambil jaketku, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

                             ***

        Ya, ini memang bukan sifatku keluyuran tengah malam. Tak ada pilihan, aku sudah terlalu enek dengan kelakuan mereka.
         
        Sekarang aku ngga tau mesti ke mana, sudah sejauh ini aku berjalan. Tak ada yang mau menampungku. Sepanjang langkahku selalu diiringi dengan tangisanku. Sedih, luka, nanar, sakit. Aku berhenti di sebuah jembatan, aku berteriak dan menangis sekencangnya. Aku tak perduli orang menganggapku apa, karena mereka tak mengerti, fikirku. Sampai akhirnya ada sebuah mobil berhenti tepat di depanku yang kini tengah duduk tersungkur di jembatan. Seorang pria turun dari mobil itu, dan berjalan menuju arahku. "Mba..mba kenapa? Kok nangis sendirian di sini." Aku enggan menjawab dan terus terisak dalam tangisan. "Mba ikut saya aja yuk, bahaya di sini." Tanpa babibu aku meng-iyakan tawarannya. Aku tak mengerti ke mana ragaku ini akan dibawa.

        Tak lama kemudian mobil ini berhenti di tempat yang asing menurutku. "Ini di mana?" Jawabku lebih tenang. "Ohh hey, aku Dewa." "Tyak. Ini di mana?" "Di club." "Ha?? Engga deh aku mau pulang aja." "Ini udah malem, bahaya lho di jalan." Melihat jalan yang semakin sepi, aku jadi mengurungkan niatku untuk pulang.

       Berisik. Itulah yang terjadi di sini. Tak ada satupun wajah yang aku kenal. Sangat asing. Tapi tunggu dulu ada wajah yang nampaknya tak asing untukku. Tasha, kelas XII IPS2. Siswi hitz di  sekolahku. Dia nampak akrab dengan Dewa, pria yang mengajakku tadi.

        "Eh lu Tyak kan?" Aku hanya tersenyum sumbang. "Kalian saling kenal?" Tanya Dewa. "Iyalah dia temen satu sekolah gue. Eh Tyak lu ngga salah tempat?" "Hehe iya nih kayaknya. Dewa balik yuk!" "Udah nanti aja, nanggung tauk."

        Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi denganku semalam. "Tyak bangun!! Kamu ngga sekolah?" Aku mendengar suara itu, tapi kepalaku terasa berat untuk bangkit. Aku melihat wajah Tasha samar-samar di pelupuk mataku. Perlahan aku bangkit,dan  bersadar di punggung ranjang. "Kamu ngga sekolah?" ulang Tasha. "Hmmmm, kayaknya aku ijin deh kepalaku pusing banget. Ooo iya kok aku bisa di sini sih???" "Yaudah kamu istirahat di sini aja. Kamu semalem kebanyakan minun tauk, udah ya aku berangkat dulu." "Ha???" Sontak aku cengo mendengar penjelasan Tasha. 'Aku minum? Ya Tuhan.' Bantinku penuh penyesalan. Aku berniat untuk pulang, karena tak enak lama-lama di sini. Apalagi aku tak begitu dekat dengan Tasha. Tapi kenyataannya kondisi enggan menuruti anganku. Aku memutuskan beristirahat di sini.

        Tak sadar aku sudah terlalu lama tidur, aku melihat seorang gadis berambut hitam ikal panjang, dengan tanktop hitam yang mengantung di tubuhnya. "Tasha udah pulang?" "Hmmm dispensasi dadakan. Oo iya keadaan lu gimana?" "Udah mendingan kok."Jawabku sembari menunjukkan senyum simpul. "Syukur deh. Ooo iya kenapa lu berkeliaran semalem? Itu bukan lu banget." "Iya kamu bener, itu bukan aku banget. Tapi kamu tau kan masalahku sekarang? Masalah keluargaku, masalah orang tuaku? Mama pergi entah ke mana, papa ngga pernah pulang, bang Rio kuliah di Yogyakarta, di rumah aku kesepian, sendiri. Aku fikir di sekolah aku sedikit terhibur dengan adanya temen-temen, Della, Chika, Diana ama Stevan. Kenyataannya mereka semua ikut pergi. Aku bener bener sendiri." Air mataku mulai pecah, dan seketika itu juga Tasha memelukku, menenangkan. "Udah lu ngga usah sedih, sekarang lu ngga sendiri, ada gue di sini." "Thanks Sha, tapi..." "Stevan???" Jawab Tasha cekatan, aku mengangguk pelan. "Tyak, lu tuh cantik, lupain Stevan, banyak cowo yang mau sama lu. Hmmm gw mau ngerubah penampilan lu. Hmmmm sekarang lu prepare habis itu ikut gue." Kata Tasha sembari menarik tanganku. "Tapi kita mau ke mana?" "Udahh yukkk!! "

                            ***

        Ternyata Tasha membawaku ke salon. Aku memang terlahir dari keluarga yang berkecukupan, tapi aku tak terlalu suka repot-repot mengurus diriku, bisa dibilang cuek dengan penampilanku. "Kita mau ngapain?" Tasha tak menjawab ocehanku.

        Ini yang membuatku malas pergi ke salon, menunggu. Hal itu sangat membosankan menurutku. Sudah satu jam aku beradaptasi dengan bangku di salon, terkadang harus digiring ke sana ke mari. Dan selesai, aku kaget melihat rambutku yang tampak seperti rambut jagung, sangat berbeda dengan sebelumnya, hitam dan berkilau.

        "Duh cantiknya." "Tasha ini apaan? Kenapa ngga bilang kalau rambutku diwarnain?" Protesku. "Tyak sayang itu lagi trend. Udah nurut aja, pasti banyak cowo yang kecantol." Aku berusaha meng-iyakan omongan Tasha, meskipun sedikit tak rela. Tanpa aba-aba Tasha mengajakku ke sebuah butik dan membelikanku sepasang blous katungan dan rok mini. Setelah selesai menyelesaikan pembayaran Tasha memaksaku untuk mengenakannya. "Nih kamu ganti baju." "Sha? Aku pakai rok ini?" Tasha mengangguk tegas. Baru saja aku ingin membuka mulut berniat untuk mengelak, tapi Tasha mendorongku ke bilik toilet.

        Kini aku sudah berbalut blouse putih di dampingi dengan rok mini motif warna putih. Tampak beda. Aku tak melihat sosok diriku. "Wow cantik banget tuan putri." Puji Tasha. "Kita mau ke mana lagi?" Tanyaku bingung. "Makan yuk. Laper." Kita mengalihkan kaki menuju sebuah cafe yang cozy. Aku menatap Tasha seolah sedang mencari sesuatu.

        "Dewa!!!!!" Teriak Tasha. Aku seketika tersedak mendengar nama itu disebut. Ya benar saja, wajah Dewa yang manis diimbuhi badan yang atletis kini tengah duduk di sampingku. "Tyak? Ini elu?" Aku hanya tersenyum sumbang.

.                           ***

        "Tyakkk!!" Suara Tasha sudah terdengar di ambang pintu. Ya, karena hari ini aku berangkat dengan dia. "Iya bentar." Tak selang berapa lama aku menampakkan wajahku di depan Tasha. Terlihat mimik wajah yang aneh, dan turun dari mobil sembari menyondorkan sebuah seragam. "Apaan nih?" "Udah buruan ganti" Aku meng-iyakan permintaan Tasha. Aku kembali menampakkan diriku di ambang pintu, kali ini dengan seragam super mini dan super ketat.  Sangat ngga nyaman. "Yuk berangkat." Ajak Tasha.

        Sedari tadi aku beruasaha menurunkan rokku yang terlalu pendek. "Nanti juga bakal terbiasa kok. Lu harus buktiin ke mereka, kalau lu engga lemah." Jelas Tasha menenangkanku.

        Benar saja, ketika aku menurunkan kaki dari mobil, semua mata menatapku. "Tutup telinga, jalan lurus ke depan." Bisik Tasha lagi-lagi menenangkanku.
       
         Semua mata terlihat menatapku, aku berusaha tak perduli. Sesekali dalam langkahku diiringi siulan dari siswa yang bermaksud menggodaku.

         Aku melihat Chika, Diana dan Della sedang bersendagurau di sudut kelas. Aku berusaha mendekati mereka. "Hai." Belum mereka menjawab sapaanku mereka pergi menjauh. Aku mencoba sabar kembali ke bangku ku dengan langkah gontai.

                             ***

         Sepulang sekolah aku melihat sebuah mobil sedan merah yang nganggur di depan gerbang sekolah. Terlihat tak asing. Ya, mobil Dewa. "Sha kok ada Dewa?" tanyaku polos. "Oo iya sorry nih Yak, lu balik bareng Dewa dulu ya. Gue ada urusan soalnya. Ngga masalah kan?" "Engga kok."

        Ku alihkan langkagku menuju mobil sedan yang sedari tadi menungguku. "Hai." Sapanya ketika aku menyondorkan tubuhku ke dalam mobil. "Sorry ya lama." "No problem." Kita lebih memilih saling bungkam. "Kita mau ke mana?" Sontak aku bertanya ketika mobil yang aku tumpangi lewat jalan asing. Belum dia sempat menjawab, mobilnya sudah berhenti di depan rumah mewah. "Sampai." Katanya cheerful. "Ini rumah siapa?" "Rumah aku." Aku tak banyak bertanya, dan mengikuti langkah Dewa menyusuri rumah itu. Sepi. Sangat sepi. Sama seperti istanaku. "Kok sepi?" Tanyaku membuka pembicaraan. "Emang." Jawabnya singkat. "Pada ke mana?" "Ke luar kota." Aku membulatkan mulutku sembari mengangguk mengerti.

          Kita banyak bercanda, tapi sebelum suasananya menjadi berubah. Ada makhluk ketiga yang merasuki kita. Aku tak mengerti apa yang ada difikiranku. Semuanya mengalir. Tanpa ada rasa takut ataupun cemas. Semenjak itu hubunganku dengan Dewa semakin dekat, hampir setiap hari aku main ke rumah Dewa, atau sering menghabiskan waktu bersama, meski kita ngga tau apa status kita. Bahkan aku sering menginap di rumah Dewa.

          Entah kenapa semanjak ada Dewa dan Tasha aku merasa punya dunia baru, tak kesepian lagi. Tak pernah merasa sendiri, kita tertawa, bercanda. Seakan aku lupa dengan masalahku. Aku tak pernah pulang ke rumah lagi, aku lebih sering pulang ke rumah Tasha ataupun Dewa, ya karena memang papa sekarang tinggal di rumah bersama wanitanya.

        Tapi hubunganku dan Dewa tak berlangsung lama, Dewa tiba tiba menghilang. Tak pernah pulang ke rumah, tak bisa dihubungi lagi, tak pernah nongol di club lagi. Semenjak itu aku tak lagi tinggal di rumah Dewa, menghabiskan waktu di rumah Tasha.

        Aku tak sedih dengan kepergian Dewa, karena Tasha mengenalkanku dengan pria pengganti Dewa. Dio, Tyo,Bayu, Redo, Surya, Bimo, Gilang, dan entah siapa lagi. Sama seperti hubunganku dengan Dewa, hubunganku dengan pria-pria yang dikenalkan Tasha juga tak berlangsung lama, dan gaya pacarannya pun sama, terlalu kotor dan dewasa. Lebih sering pergi ke club, dan menginap di rumahnya.

                            ***

        Hari wisuda tiba, tak terasa masa putih abu-abu ku telah usai. Aku mencoba mencari sahabat-sahabatku. "Della.." Aku mendekati Della yang sedang duduk seorang diri. Aku peluk dia, begitu erat. Karena sungguh aku merindukan mereka. Tak lama kemudian, bahuku terasa terhentak keluar dari pelukan Della. "Chika, Diana." panggilku. "Ngapain?? Maaf ya, kita ngga punya sahabat yang brutal kayak kamu. Kita ngga tau udah ngapain aja kamu sama cowo-cowo itu." Ujar Diana menusukku. "Maaf ya, kita orang baik-baik. Kita gamau salah teman." Tambah Chika. Mereka pergi meninggalkanku yang berderai air mata. Seketika itu juga Tasha datang memelukku. "Ngga usah dengerin, mereka bukan sahabatmu lagi. Biarkan mereka pergi. Kamu ngga sesedih itu kok" Aku berfikir keras dengan ucapan Tasha.

       20 tahun sudah usiaku, kehidupanku masih sama seperti 3tahun terakhir ini, hitam, kelam. Selalu berkelut dengan dunia malam. Aku masih enggan melanjutkan studyku, di saat yang lain sudah update di sosmed tentang kampus baru mereka.

        Aku sudah sangat lelah. Lelah dengan hidupku yang jatuh. Gonta ganti pacar tak jelas, gaya pacaran yang sangat ubnormal, clubbing tiap malem, menghambur- hamburkan uang tak jelas. Sudah tak tahu apa itu Tuhan, di mana tempat ibadah itu. Aku lelah dengan duniaku yang tak dihargai, dianggap remeh karena ulahku. Tak pernah dianggap penting. Tubuhku pun tak sempurna lagi.

        Aku selalu berfikir, akankah ada orang yang benar benar tulus menerimaku yang sudah tak sempurna. Yang mencintaiku karna Tuhan, bukan nafsu belaka. 

        Mendadak aku rindu mama, papa, kak Rio, sahabat-sahabatku. Andai mama dan papa tak berpisah, aku tak akan mencari-cari duniaku. Aku rindu mereka, rindu kehidupanku yang dulu. Kehidupanku yang polos, yang hanya mengenal cinta Stevan, meski dia meninggalkanku dan pergi dengan wanita lain disaat dia mendengar masalah dikeluargaku.

        Aku lelah dengan mereka yang datang hanya untuk mampir sebentar sekedar menikmati kesenangan, setelah itu pergi dengan menyisikan luka. Sekilas aku merasa terhibur dengan kedatangan mereka, tapi kini aku sadar mereka membawa kebaikan yang berujung kematian untukku. Aku benar-benar merasa kotor. Bagaimana kalau kak Rio tau? Apa dia masih sayang sama aku? Batinku. Serasa hidupku ingin berhenti disini.
       
                             ***

        Aku memutuskan untuk meninggalkan rumah Tasha tanpa berpamitan, tak sopan memang. Tapi ini lebih baik.

        Entah sejauh apa kaki dan air mataku melangkah. Sampai aku berujung ke jembatan, ya jembatan yang waktu itu menampung tangisku ketika pergi dari rumah. Sekarang jembatan ini pulalah yang lagi-lagi menampung derasnya air mataku yang penuh nanar karena kotornya hidupku.

        Lagi-lagi seketika aku menangis, duduk tersungkur seorang diri di dinding jembatan, sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Takut, itu yang menyelimuti perasaanku. Takut jika dia sejenis dengan Dewa, dan membawaku ke dunia yang jauh lebih hitam.

        Seorang pria dengan penampilan rapi turun dari mobil, kemudian menghampiriku. "Kamu kenapa menangis sendirian di sini?" Tanyanya tanpa menyentuhku sama sekali. Aku hanya diam ketakutan, sembari menggeserkan posisi dudukku menjauhinya. "Maaf, kamu ngga perlu takut. Aku ngga akan ngapa ngapain kamu." Aku sedikit luluh dengan ucapannya, dan meng-iyakan ajakannya.

        Dia memapahku menuju mobilnya, karena memang kondisi tubuhku yang lemas akibat terlalu lama menangis dan terlalu jauh berjalan. Dia melajukan mobilnya, ke jalan yang asing buatku. Nafasku sedikit lega ketika mobilnya memasuki gapura yang bertuliskan "KAPEL ST. YOHANES PEMBAPTIS" Dia katolik. Batinku. Sungguh indah, kapel yang memiliki keindahan, terletak di daerah dataran tinggi, dengan pemandangan yang indah, diiringi sun rise yang mambubuhi indahnya pemandangan di situ. Aku tak berhenti terkagum-kagum dengan tempat ini.

        Dia mengajakku ke kedai teh yang berjarak 50 meter dari samping kapel, dan menghadap langsung ke arah pemandangan tadi. "Setiap sabtu pagi aku selalu ke sini." Ucapnya membuka obrolan. "Aku Johanes. Panggil aja Johan." Lagi-lagi dia berusaha membuka obrolan. "Tyak." Jawabku singkat, sembari sesekali menyedu teh hangat yang aku pesan tadi. Kita saling bungkam, hingga akhirnya gantian aku yang membuka obrolan. "Tempatnya bagus ya.." dia mengangguk pelan, kemudian hening kembali. "Ehh udah waktunya nih, maaf kamu muslim?" Tanyanya. "Katolik." Jawabku singkat. "Mau ikut masuk? Ibadatnya udah hampir mulai." Deg, jantungku seakan mendengar ajakannya. Dengan cepat aku mengaangguk menerima ajakannya.

        Aku menangis, ketika aku kembali ke rumah Tuhan. Hatiku terasa sejuk. Sepanjang ibadat air mataku tak kunjung menghentikan aktivitasnya.

        Seusai ibadat kita memutuskan untuk kembali ke kedai tadi. "Tadi kenapa pas di kapel kamu nagis?" Tanyanya membuka pembicaraan. "Aku udah lama ngga ke rumah Tuhan." Jawabku penuh haru. "Kenapa?" "Aku terlalu asik dengan kenikmatan dunia, sampai lupa akan agamaku bahkan sampai kehilangan imanku." "Maksudnya?"
"Ya semenjak orang tuaku berpisah, dan papaku punya wanita lagi, rasanya hidupku hancur. Diikuti dengan perginya sahabat-sahabatku dan pacarku semenjak masalah dikeluargaku sampai terkuak di sekolah. Aku pergi dari rumah, dan aku bertemu dengan orang orang baru. Aku tertawa bareng mereka, mereka buat aku tak kesepian lagi. Tapi aku salah, aku baru sadar, tawa itu pada akhirnya mematikanku. Mereka datang dan pergi, meninggalkan bekas yang tak bisa dipulihkan. Aku sudah tak sempurna, hidupku kelam dan hitam." Jelasku, sontak dia memelukku, mengusap rambutku menenangkan. "Sekarang aku ngga tau, apa Tuhan mau memaafkanku, apa aku akan punya pendamping hidup yang mencintaiku karena Tuhan? Terdengar egois memang, tapi aku lelah dengan mereka yang hanya memanfaatkanku, yang tak pernah tulus." Imbuhku. "Tuhan tak akan menolak anak-Nya yang ingin datang kembali pada-Nya. Tuhan akan bangga. Dan memang itu terdengar egois, tapi ingat tak ada yang mustahil bagi Tuhan." Hatiku menjadi nyaman mendengar dia berucap.

                           ***

        Semakin lama aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Johan, ke gereja, kegiatan sosial, dan kegiatan positif lainnya.

        Sepulang dari gereja, dia mengajakku untuk makan di sebuah restaurant. Sembari menunggu pesanan datang, kita mengobrol untuk mengisi keheningan. "Ehh besok abang aku datang." "Ohh ya?kebetulan banget." "Haa?? Kebetulan gimana?" "Ya kebetulan ada yang mau aku omongin ke dia." "Ngomong apaan?" "Aku mau ngomong kalau aku mau serius sama ama adiknya." "Bercandanya norak deh." "Tyak, aku ngga lagi bercanda." Aku cengo mendengar ucapan Johan yang tak memasang tampang bercanda sedikitpun. "Tyak, aku sayang sama kamu. Entah dari kapan. Semenjak aku sering ke gereja bareng kamu, berdoa bareng kamu aku ngerasa itu moment istimewa." "Tapii.. " "Aku ngga peduli dengan masa lalumu, semua orang punya masa lalu. Entah baik entah buruk. Toh aku hadir semuanya belum terlambat. Yang terpenting kehidupanmu yang sekarang. Setiap orang punya kesempatan." Aku menatap Johan penuh haru. Terimakasih Tuhan atas kesempatan ini.

                                ***

        Hubunganku dengan Johan semakin serius, keluarganyapun menerimaku dengan ramah. Sampai ini tujuan hubungan kita.

        Aku bersyukur dengan pria yang selama ini menemaniku, membalikkan arah hidupku, yang mencintaiku karena Tuhan, yang menjadi pria yang beda dari yang sebelumnya. Yang kini sedang berdiri di sampingku, dengan jas yang menggantung ditubuhnya dan  mengucap janji suci di depan romo. Yang membuat ornag-orang yang aku sayang berkumpul di sini. Mama, papa, Kak Rio. Meski tak ada sahabat-sahabatku.

        Air mataku terjatuh mengenai gaun putih mewah yang membalut tubuhku. Sembari mengenakan cincin dijariku, mencium keningku dan mengucap 'I LOVE YOU'. Kembali aku menangis ketika duduk tersungkur di pangkuan mama. Aku peluk kedua orang tuaku penuh haru, suasana yang aku rindukan selama ini.  Sempurna sudah hidupku, ketika dia resmi menjadi pendampingku.





                        •SELESAI•

Selasa, 25 November 2014

Tetesan Pena

Aku melangkah
Dengan hati yang tak kunjung mengarah
Sembari berdoa dengan pasrah
Diselimuti baju yang penuh basah

Sejenak aku terdiam
Menyusuri masa yang pernah kelam Yang hanyut dan tenggelam
Ditelan oleh dinginnya malam

Kini aku tengah tunduk terjerat
Beratapkan langit yang gelap pekat
Diiringi hujan yang tak kunjung menjatuhkan diri
Menemani malamku setelah resmi kau pergi

 Seolah ingin berlari dari derasnya hujan
Namun apa daya kaki tertahan
Dalam kelabu kesendirian
Dan dibungkus sejuta kenangan
Dengan rapih sengaja disimpan

    By>> G.A.M.P.S

         

Jumat, 26 September 2014

Cause You're My Destiny

                         MY IDOL

       DEG!!! "Aaaaaaaaaaa," teriak ku begitu melihat Bayu Julio ada dibalik da.  layar kaca. Itulah kegiatan yang sering aku lakukan ketika melihat sosok Bayu mulai muncul di layar kaca.

       Siapa yang tak tau Bayu Julio selebriti remaja kondang yang selalu jadi idaman kaum hawa. Dibalik sikapnya yang pendiam sebenernya dia humble banget. Itu sih menurut artikel yang aku baca, kareena aku belum pernah bertatap muka dengannya.

       "Anggun.. Udah jam berapa ini? Ayo belajar! Mantengin tv terus," teriak bunda dari dalam kamar. "Aduh bunda entar dulu ya, lagi ada Baaoo.  Ju nih." Tanpa memikirkan penjelasan dariku bunda langsung mematikan tv, dan pergi meninggalkanku yang belum beranjak dari depan tv. Dengan langkah gontai dan bibir manyun kulangkahkan kakiku ke kamar. Di dalam kamar bukan bukulah yang aku raih melainkan ponsel yang sedang aku charge. Seperti biasa yang aku lakukan adalah stalking idolaku itu. Kini stalking menjadi job yang nyaman buatku.

       Teriakan alay selalu terlontar dari mulutku yang mengundang kemarahan bunda. Tapi aku tak peduli itulah ekspresi kebahagiaanku ketika melihat senyum manis seorang Bayu.

                            ***

       Kini aku tengah menatap akun instagram milik BaJu. @Bayu_Julio. Begitulah bunyinya. Aku memang lebih suka membuka akun instagramnya ketimbang akun yang lain. Karena aku lebih suka update foto-foto BaJu yang kece bingiitss itu. Jiah mulai alay nih.

       Terpampang jelas foto BaJu yang hanya  memakai kaos item polos kacamata hitam celana panjang diimbuhi dengan sepatu vans yang membuatnya makin kece. "Aaaaaaaaa OMG Baju. Muah Muah." Itulah kegiatan alayku saat stalking foto-foto BaJu yang selalu kuberi adegan menciumnya yang terbatas dengan layar ponselku.

       Mataku mulai berat untuk menatap wajah BaJu di layar ponsel. Tanpa kusadari kini aku terlelap manis.

       Entah terbawa angin apa tiba-tiba saja aku berada di sebuah taman yang dikelilingi bunga tulip, bunga kesukaanku. Aku ingin tersenyum lepas, tapi rasa takut ikut menyelinapi perasaanku karena aku sendirian di situ. "Siapa yang bawa aku ke sini?"  Tak sadar satu butir air mataku mulai berjalan menelusuri pipiku. Seketika, aku merasa ada seseorang yang berdiri dibelakangku. Perasaan ini semakin tak karuan, air matakupun kini sedang berlari di pipiku, karena semakin takutnya aku. Kemudia orang itu memberikan se bucket bunga tulip bermacam warna, dari belakang tubuhku. Dengan enggan kuputar tubuhku untuk menatap siapa orang itu sebenarnya?

       Dadaku terasa sangat sesak ketika menatap matanya yang coklat, wajahnya yang putih dengan tahi lalat di hidung, yang membuatnya semakin manis. Mulutkupun terasa pilu untuk berucap. Tubuhku semakin terasa lemas saat digenggamnya tanganku. Dia hanya berbisik 'I LOVE YOU.' namun itu sangat jelas telingaku. Saat aku ingin memeluknya tiba-tiba saja tubuhku terasa berguncang, dan samar-samar aku terdengar suara bunda. "Nggun bangun nak. Nggun kamu sekolah tidak?!" "Hmm iya bun bentar lagi." "Terserahlah ini udah jam 6. Kalau terlambat yang dihukum juga kamu!" Mataku membelalak seketika. Dengan langkah gontai ku berjalan menuju kamar mandi. 'Sial cuma mimpi,' batinku.

                                ***

                     JUST A DREAM

       Di sekolah aku cuma bengong, mimpi semalam sempat membuat konsentrasiku buyar. "Carroline Anggun Pramudyana!" Aku masih menghiraukan panggilan itu. Sampai terdengar pukulan penggaris di mejaku. Tubuhku spontan tersontak kaget. "Anggun keluar kamu!" Pinta sekaligus bentak guru matematikaku yang killer abis kalau ada muridnya yang asyik dengan dunianya saat ia menerangkan. Ya, Bu Atik.

       Setelah pelajaran matematika usai, aku masih tak mengerti apa yang membuatku sampai bengong dan di keluarkan begini? Sampai sekarang aku masih asyik dengan duniaku sendiri, hingga teman sebangku ku geram melihatnya.

       "Woy!! Anggun udahan dong bengongnya. Bete nih di cuekin mulu." ujar Enggita. Aku tetap sibuk dengan lamunanku.

       Dia Enggita Oktavia, anak baru pindahan dari sekolah negeri di ibu kota. Baru sebulan dia menginjakkan kakinya di kota lunpia ini. Ya, dia satu satunya sahabat yang aku punya di sekolah. Karena status ekonomiku yang beda dengan mereka. Tapi tidak dengan Enggita, dia bisa dibilang anak konglomerat di Jakarta. Tapi sifatnya sungguh beda, tak mencerminkan bahwa dia kalangan berada, sungguh sederhana.

                             ***

       "Nggun.." sapa teman sebangkuku setelah sekian lama sama-sama hening. "Kenapa Eng?" "Kantin yuk!" "Ngga ah lagi bokek nih aku." "Aku traktir deh." "Jangan ah nggit, kapan aku balasnya nanti?" Dia hanya terkekeh sembari menarikku ke kantin. "Bu bakso 2 porsi ya, sama jus nya 1, kamu minum apa Nggun?" "Emmm apa ya?" pikirku sembari mengetuk ngetuk dagu seolah olah mengingat jawaban saat ulangan. "Ahh lama kamu! Udah bu Jus Good Day moccacinnonya 1 ya." Kita beralih berebut meja, karena kantin yang emang hobby ramai. Kita memutuskan memilih meja di pojok selain asyik untuk ngobrol juga ngga jadi pusat perhatian ketika memijak ke kantin.

       "Ini mbak pesenannya." ucap Ibu Sarwo si penjual di kantin. "Makasih ya Bu." balasku kompak dengan Enggita. "Eh Nggun kamu kenapa sih

 tadi melamun gitu? Ngga biasanya lho kamu gitu. Lagi ada problem ama Raka ya?" Uhukk.. Uhukk.. Aku sampai tersedak mendengar ucapan Eng, karna jujur aja walaupun aku sayang sama Raka tapi aku ngga pernah sampai segitunya memikirkan dia. Buang-buang energi menurutku, ya kali dianya balik kayak gitu. "What? Mikirin Raka? Engga lah. Lagian aku ama Raka fine kok." "Lha terus kenapa sampai dikeluarin gitu Anggun sayang?" tanya Eng geram. "Aku semalem mimpi Eng." "Hayoo mimpi apaan?!" tanya Eng ngaco. "Dih porno kamu!" Kemudian kuceritakan inci demi inci mimpiku semalam. "Gila kamu sampai nangis? Ternyata dia itu siapa?" tanya Eng dengan tatapan 'alay banget kamu Nggun'. "Sialan natapnya biasa aja dong buuu." "Hahaha ya maaf lah." Dia malah terkekeh. "Dia itu Bayu Julio." "Ha?Hahahahahaha." Kini dia semakin terkekeh sampai tersedak. "Sukurin kualat tuh." "Jahat ih." "Biarin. Nih minum." "Thanks ya besties. By the way, kamu yakin yang dimimpimu itu si artis BaJu?" "Iyalah kalo engga ngapain sampai kepikiran gini?" "Mungkin itu Raka kali." "Hiiih Eng kamu bawel banget sih! Aku tau detail mukanya Raka, ngga ada indo nya sama sekali. Dan kamu tau? Bisikannya itu jelas banget." jelasku semabari senyum-senyum sendiri membayangkan sesosok BaJu. "Dih itu mah alaynya kamu aja." "Tau ah Eng bete cerita ama kamu." Aku pura-pura memasang muka ngga mood. Inilah indahnya sahabatku, dengan sadar dia langsung memelukku. "Maaf kan cuma canda." Walaupun dia orang berada dia tak pernah gengsi untuk mengungkapkan maaf kepadaku yang hanya orang biasa.

                                  ***

       Akhirnya bel pulang bernyanyi riang. Waktunya aku memutuskan untuk berpamitan dengan Eng, karena kondisiku yang ngga karuan juga hari ini. "Eng, aku pulang dulu ya. Pengen cepet-cepet ambruk nih." Wajah Eng mendadak menjadi parno. "Lho? Kamu sakit Nggun?" Aku tersenyum haru menatap sahabatku ini. "Engga Enggita sahabatku yang parnoan, aku itu pengen buru-buru molor nih mata aku udah merah." Ku tunjuk mataku yang memang merah mengantuk. "Udah ya suyung aku pulang dulu. Da..." Ku kecup pipinya yang cubby itu.

       Sesampainya di rumah, begegas ku bebenah diri, dan menuju ke tujuan utamaku. Yups, kamar. Ku rebahkan diri di kasur ku yang hanya berbahan baku kapuk itu. Meski demikian dia lah yang mengantarku ke perjalanan mimpi malamku. Kubiarkan rambut ikalku tergerai lepas di atas bantal. Kutatap langit kamarku, yang sengaja kutempeli poster BaJu di sana. Itu lah salah satu hobbyku, yang membuat aku betah di kamar ini.

       Imajinasiku mulai bergejolak, seakan memaksaku untuk berimajinasi dengan BaJu. Kini wajah BaJu samar-samar nampak di pelupuk mataku. Dia mengajakku ke sebuah cafe. Dengan mobil sportnya dia menjemputku. Makin kece aja dia. "Hai, kamu cantik banget malem ini." Pipiku serasa memanas mendengar pujian darinya. Aku hanya mengenakan short dress merah dengan heels, sembari kubiarkan rambutku teruarai lepas. Dengan gentle dibukakannya pintu untukku. Romantis banget! Kini aku dan BaJu udah di depan cafe yang nampak depan aja udah keliatan romantisnya. Dia ranggih tanganku dan digandengnya. Aku hanya diam tak berkutik. Sampai kita di meja yang udah dipesan BaJu. Lagi-lagi ketemu bunga tulip. Ya, di meja sudah ada bucket bunga tulip bermacam warna. Mataku mulai berkaca-kaca dan hampir pecah. Dia genggam tanganku. Seketika itu juga tubuhku bergetar, dadaku sesak, jantungku seakan sedang mengikuti lomba maraton. Kini matanya menatapku dalam. Aku semakin tak berkutik. Hampir saja dia ingin kembali berucap tiba tiba ponselku bunyi. 'Sial merusak aja nih,' batinku. Ternyata dari si pengganggu Eng.

                                 ***

                             UNDIAN 

       "Hallo kenapa Eng?" jawabku sedikit sebel. "Ih jutek amat sih kamu." suara Eng yang berubah menjadi tampak sedih. "Eeh engga gitu Eng. Ada apa nih?" Dia hanya terkekeh dibalik telepon. "Lho? Lah? Kok malah ketawa sih?" "Hahaha kamu juga parno ternyata." "Tauk ah." "Jangan ngambek dong, emang kamu lagi apa sih? Kayaknya sibuk banget." "Biasa lagi sibuk ama hobby aku." "Hobby yang mana? Stalking? Atau berimajinasi?" "Hehe berimajinasi" jawabku sambil senyum senyum, padahal udah tau Eng ngga bisa senyumku. "Hehe bener-bener udah ngga waras nih kamu. Ooo iya jadi lupa kan, besok ikut aku yuk!" ajak Eng dari balik telepon. "Mau ke mana?" "Treathment." jawabnya singkat. "Ogah ah. Tau sendiri aku ngga pernah gituan." "Aaa, ayolah Nggun. Temenin aku, please." rengek Eng, yang udah kebayang mimik wajahnya. "Iya deh iya." "Hehe makasih ya Anggun sayang muuahh. Dah sana dilanjut lagi berimajinasinya." "Udah lupa nyampe mana keleus." Eng pun memutuskan berpamitan setelah lama berbincang bincang di telepon. "Udahan dulu ya, aku mau prepare satnight ama Bima dulu ya." pamit Eng.

                                ***

       Satnight minggu ini aku juga ada janji dengan Raka. Dia udah janji mau jemput jam 7, tapi ternyata kali tak sesuai rencana. Aku harus menunggunya cukup lama meskipun boring juga terkadang. Nyanyian motornya sudah terdengar olehku. Raka udah di depan rumah. Segera aku berpamitan dwngan bunda. "Bunda aku pergi dulu ya." ku kecup tangan yang kini menanggung beban hidupku. "Jangan malem-malem pulangnya!" "Pulang pagiboleh dong yaa?" candaku yang dibalas bunda dengan pukulan ringan.

       Kini aku berada di depan pria yang sangat aku cintai, pria yang kini menaruh perhatian lebih kepadaku, pria yang selalu memandangku dengan tatapan cinta. Raka Wijayanto. Dia yang selalu mengerti kegilaanku akan BaJu. Dia tak pernah marah ataupun menentangku untuk melakukan kebiasaan konyol, justru dia mendukungku sepenuhnya. Itulah yang kusuka dari Raka, dia berbeda.

       "Mau ke mana sih kita?" "Udah diem aja gausah bawel deh." "Ih nyebelin ah kamu." nadaku berubah menjadi manja. "Ngga gitu sayang kan biar surprise." pipiku mendadak memanas mendengar kata surprise, bukan hanya penasaran surprise apa yang bakal dikasi Raka, tetapi otakku kembali memutar imajinasiku tentang BaJu tadi siang.

       Setelah berdiam diri diatas motor yang dikendarai Raka, kami pun sampai di tempat yang dimaksud Raka. Sebuah cafe yang nampak depan aja udah romantis banget. Jadi keinget imajinasiku tadi siang, tapi kok malah Raka yang di sini? Bukannya ngga suka tapi hanya sedikit aneh aja. Dan untungnya aku tak salah kostum kali ini. Raka yang seperti biasa tak pernah memberi tahu mau ke mana kita nantinya, yang membuatku membutuhkan waktu 1jam untuk memilih baju. Keputusanku tepat memilih atasan blouse polos dengan bawahan rok mini di atas lutut, dipadu dengan flat shoes merahku. Sedikit feminim temaku malam ini.

       Benar-benar tak menyangka ketika berada di depan meja yang sudah dibooking Raka. Alurnya sama seperti yang ada di imajinasiku tadi siang. Dengan hati yang bingung aku mencoba mengikuti alur yang ada saja. Bedanya kalau dikenyataan ini bukan pertama kalinya Raka bilang I LOVE YOU. Raka memang cowo yang romantis, sampai sekarang aku masih tak mengerti apa yang dilihat Raka dari aku.

                                 ***

       Seperti biasa disetiap hari minggu aku memilih bangun siang untuk memulai hariku. Menurutku ini kesempatan yang langka. Ya, aku bangun pukul 9, suara ponselkulah yang berhasil membuatku siuman. 'Ini ka hari minggu, aku ngga pernah pasang alarm.'  batinku. Ternyata telepon Eng yang membuatku siuman. Belum sempat menyapa, suara Eng udah berlari dibalik telepon. "15menit lagi aku sampai di rumahmu." "Ha? Mau ngapain?"  sembari kukucek mataku yang memang masih enggan untuk membukanya. "Wait, jangan bilang kamu lupa." "Emmm.. Apaan sih Eng?!" "Kita tuh mau treathment di Kartika spa n salon." Seketika mataku membelalak sembari menepuk jidat. "Astaga, maaf Eng aku lupa capek banget sih." "Buruan mandi pokoknya aku gamau tau setelah aku sampai rumahmu kamu harus udah siap!" "Iya iya bawel ah." Kupercepat langkah gontaiku menuju kamar mandi. Setelah itu kupercantik diriku di depan cermin ya walaupun cuma pergi ama Eng.

       Kali ini Eng bener-bener mengerjaiku, setengah jam lebih aku sudah siap diangkut olehnya, namun yang ngangkut tak kunjung datang. Setelah cukup boring nungguin Eng, suara mesin mobil mulai terdengar sedang berhenti di depan rumah. Segera ku kunci pintu rumah, karena bunda yang udah berangkat kerja dari fajar tadi. "Hehehe." tawa khas Eng tanpa dosa. "Apaan ketawa-ketawa udah meleleh tauk." "Maaf dong tadi nyari bensi dulu, emang kamu mau dorong mobilku?" "Dih, mending aku bobo cantik di rumah dah." candaan garing selalu kita selingi dalam perjalanan dekat pagi ini.

       Mobil jazz silver milik Eng kini telah terparkir rapi di depan sebuab gedung yang bertuliskan 'Rumah Cantik Kartika'. Tanpa babibu Eng langsung menarikku masuk ke gedung mewah itu. Senyum ramah pegawailah yang kita dapat ketika memijakkan kaki di sana. "Selamat pagi kak, selamat datang di Rumah Cantik Kartika." "Iya pagi mbak." balasku dengan ramah. "Kita mau treathment nih mbak." sambung Eng. "Baik silahkan isi datanya dulu." Aku hanya bengong, bingung mau ngapain. "Woy nih isi." Kata Eng menyikut sikuku. "Ha? Apaan tuh?" "Data diri buat treathment." "Ngga ah, aku nungguin kamu aja di sini." tolakku. "Udah deh isi, kemaren kan udah janji, buruan isi!" paksa Eng yang membuatku benar benar tak berkutik. 

       Setelah berjam-jam menjalani rangkaian treathment, akhirnya selesai juga, seger sih. Ya maklumlah namanya juga pertama kalinya. "Gimana?" "Gimana apanya?" tanyaku polos. "Tauk ah." jawab Eng kesal. "Hehe iya enak kok Eng." "Tetep ya lemotnya gak ilang, yaudah makan yuk." "Makan di rumahku aja ya? Biar hemat." "Boleh deh, masakin ya." 

       Sampai di rumah aku cuma dikasi waktu Eng buat ganti baju aja, setelah itu aku ditariknya hingga ke dapur. "Buruan gih masak!" Hanya pesan itu yang ditinggalkan Eng di dapur, dia memilih duduk manis diruang tamu sembari nonton tv daripada menemaniku memasak. "Eng buruan makan nih." Aku hanya memasak nasi goreng, karena emang ngga ada bahan untuk di masak. "Emmm gila ini enak banget." Eng memang sahabat yang mau mengerti semua kehidupanku, karena sahabat yang baik bukan mereka yang mengerti apa yang kita mau, tapi mengerti bagaimana kehidupan kita.

                                ***

        Waktu sepertinya sedang berlari kencang untuk kulalui. Suara pak Manto sedang berkicau lantang di depan kelas menerangkan sejarah Bangsa tercintaku. Membosankan. Terlihat raut wajah teman temanku yang memasang mata ngantuk. Malah terlihat di sisi pojok belakang kelas Rio sudah tertidur pulas. Hanya bel istrihatlah yang mampu mengembalikan senyum sumringah kami. "Baik anak-anak karena jamnya sudah habis, bapak beri tugas untuk minggu depan. Ceritakan kembali apa yang bapak omongkan tadi. Selamat pagi." "Gila ya, ngasi tugas gak mikir-mikir, udah tau daritadi kita asik dengan bunga tidur kita," cerocos Belinda. "Dipikir daritadi kita dengerin dia apa?" tambah Mike. Aku dan Eng cuma bisa terkekeh geli, karena kita juga gatau apa yang Pak Manto ucapkan sedari tadi.

       Ponselku bergetar dengan sendirinya di laci meja. Awalnya aku berfikir itu dari Raka yang daritadi belum ada morning dari dia. Ternyata salah, melainkan dari nomer yang namanya tak terlihat. Mataku terbelalak membuka pesan singkat tersebut. 'Selamat pagi custom setia Rumah Cantik Kartika, kami ingin menginfokan bahwa kamu mendapat kesempatan untuk nge-date with Bayu Julio. Info lebih lanjut dapat kunjungi web kami www.rumahcantikkartika_event.co.id' sekiranya begitulah bunyinya. Kutepuk lengan teman sebangkuku. "Eng.. Eng baca deh." Eng meraih ponselku, setelah membaca dia hanya ber ooo. "Kok cuma oo sih?" "Congrats ya suyung." ucapnya kemudian memelukku. "Apaan sih aku gak ngerti nih." kataku yang masih bingung dengan isi pesan singkat itu, bukannya malah seneng sih. "Duh gini ya Carroline Anggun Pramudyana, isi sms itu memang benar." "Apa?" potongku. "Dengerin dulu! Jadi kenapa kemaren aku maksa kamu buat treathment, karena emang di Rumah Cantik Kartika lagi ada event nge-date bareng idolamu salah satunya sama Bayu. Dan semalem aku cek web nya emang kamu yang menang." Rasanya ada yang jatuh dipipiku ketika mendengar penjelasan dari Eng. Tubuhku lemas seketika, kupeluk sahabatku itu erat-erat. Bibirku pilu untuk berucap. Tiba-tiba saja ada yang menyambung pembicaraan kita. Siapa lagi kalau bukan Angel si tukang ikut campur. "Dih mau nge-date sama BaJu? Hahaha yang bener aja, mau pake apa ntar? Pake kaos celan panjang terus pake flat shoes? Duh engga banget deh. Mending pikir baik-baik deh daripada malu nantinya." Nafasku seakan berhenti sejenak memikirkan ucapan Angel yang ada benarnya juga, ucapku. "Ngga usah didengerin, namanya juga orang iri." "Tapi Eng, dia ada benernya juga. Aku mau pake apa nanti? Yang ada aku malah malu-maluin diriku sendiri." Kini sahabatku malah menatapku dalam dalam. "Dengerin! Kalau kamu udah berani bermimpi, jangan takut untuk memperjuangkannya. Dan inget, aku yang akan buat kamu ngga malu." Air mataku semakin deras langkahnya.

                                 ***

                           NGE-DATE

       Aku semakin panik. Karena bagaimana tidak? Waktu terus berputar tanpa bertoleransi kepadaku. Aku masih belum tau mau memakai baju apa nantinya, dan mau ngasi kenang kenangan apa. Seharusnya aku bangga, karena kini harapanku sudah terwujud dan itu berkat sahabatku. Namun kini perasaanku berbanding terbalik dari yang seharusnya terjadi. Benar-benar bingung. "Kamu kenapa sih sayang kok dari tadi cemberut terus? Ngga seneng ya ketemu aku?" Ya aku lagi jalan ama Raka, dan moodku bener-bener lagi ngga bisa dikontrol. "Ngga gitu Ka, aku lagi bener-bener bingung." "Sayang, kamu ngga perlu bingung. Tetep jadi dirimu sendiri aja, karena selagi kamu jadi dirimu sendiri saat itu juga kamu merasa dihargai sebagai dirimu, bukan sebagai orang lain." "Terus aku mesti gimana?" "Ngga perlu yang aneh-aneh, kamu udah cantik kok." Aku masih ngga percaya dengan ucapan Raka, dia pacarku namun dia mendukung aku bertemu idola cowo yang bisa membuatku lupa segalanya. "Raka?" "Hmm.. Ya?" "Makasih ya." "Buat?" "Buat kamu yang selalu mendukung keputusanku." "Because i am really love on all your life." Mataku berkaca-kaca dan rasanya hampir pecah. Kupeluk dia erat-erat. 

       "Morning Anggun sayang." sapa Eng begitu memasuki kelas. Aku lihat kedua tangannya penuh dengan tas belanja ala mall. "Liat deh aku bawa apa?" "Ya mana  aku tau dong Eng." "Ah kamu mah. Ini aku punya something buat kamu." "Ha? buat aku?" Eng hanya mengangguk. Kubuka satu per satu tas itu. Aku masih tak mengerti maksudt dari short dress merah, heels. "Ini maksudtnya apa Eng?" "Itu buat kamu waktu nge-date bareng Bayu." Lagi-lagi si tamu tak diundang ikut nimbrung. "Eellaah yang mau nge-date siap yang modal siapa. Aku jadi sahabatnya mah ogah, bisa bangkrut kalo gitu." Mataku mulai pecah menjatuhkan butiran halus. Saat itu juga Eng memelukku erat. "Ngga usah didengerin, yang ngejalanin aku jadi aku yang lebih tau apa yang harus kuberikan untuk sahabatku." Dadaku semakin sesak mendengar penjelasan Eng. "Eng.." Suaraku semakin bergetar. "Udah , aku cukup tau perasaanmu. Ketika kamu mendengarkan dan terus mengikuti saran orang lain yang belom tentu benar saat itu juga kamu ngga akan maju." Kata Eng menenangkanku. "Makasih banget Eng, tapi aku cuma pengen kamu tau. Aku sahabatan ama kamu tulus, bukan karena pertanyaan apa siapa dan mengapa yang membutuhkan banyak jawaban yang bertele-tele." "Sstt. Udah ngga usah difikirin, kalau masalah itu aku udah tau kok. Udahan ya nangisnya, senyum dong." Dengan halus diusapnya air mataku. Kita berdua tersenyum dan berpelukan bak acara teletubies.

                                 ***

       Hari ini aku udah janji mau maen ke rumah Eng sepulang sekolah. Selain main tentu saja karena ingin membahas soal nge-date ku yang bakal terlaksana besok. Ya besok! Bel pulang bernyanyi riang diujung sekolah. Tanpa babibu aku dan Eng langsung tancap gas menuju rumah Eng.

       Kurebahkan tubuhku dikasur Eng yang empuk, karena kini aku sudah berada di rumah Eng di kamar lebih tepatnya. Di ruangan yang cukup besar dan bernuansa paris ini aku ingin sejenak memejamkan mata dan berdoa kelak aku akan memiliki kamar seperti ini. Karena aku dan Eng sama-sama pencinta Paris. Kubiarkan rambutku terlepas bebas di atas kasur milii Eng. Dan kini sahabatku itu mulai ada sebelahku. "Eh Nggun gimana dress ama sepatunya? Muat kan?" "Muat kok Eng, pas banget malah. Hehe thanks ya."  kutatap mata bening sahabatku itu. "Udah jangan nangis. Nangis mulu nih." dia malah terkekeh tak berdosa. "Terharu tauk ceritanya." "Dih ceritanya."  Kita malah melepas tawa kita bebas, terasa tanpa beban. Hal paling bahagia itu ketika kita mampu tertawa lepas bersama orang yang kita sayang.

       Hari semakin senja, aku memutuskan untuk pulang. Tadinya aku mau pulang sendiri naik angkot, tapi Eng memaksa untuk mengantarku. Memang keras kepala kadang itu anak. "Thanks ya Eng udah dianter." "Gih sono turun, udah bauk banget kamu. Jangan sampai ntar malem kamu gak bisa tidur lho ya haha." ledek Eng. Akupun berpamitan dan turun dari mobil Eng.

       Benar saja yang dikatakan Eng tadi. Malam ini mataku terasa tak ingin menutupkan diri. Hingga larut malampun pandanganku masih terasa jelas, diimbuhi dengan jantungku yang tak berjalan normal ketika membayangkan besok. Ya besok aku akan bertemu mimpiku, mimpi yang terkadang aku remehkan untuk terjadi. Wajah BaJu mulai tampak di pelupuk mataku, semakin lama semakin jelas, matanya yang coklat, sungguh indah. Hingga aku sudah tak sadarkan diri kalo kini aku terlelap.

                                  ***

       Sepulang sekolah Eng tidak langsung pulang tapi dia belok ke rumahku. Bahkan dia sudah membawa baju ganti, karena dia ingin make over aku dan mengantarkanku nanti malam. Aku bener bener udah ngga sabar. Meskipun saat ini perasaanku begitu ngga jelas. Campur aduk.

       Aku sudah di depan cermin yang ada di kamarku. Dan kini sahabatku tengah sibuk mengotak-atik wajahku. Aku bener-bener pasrah dan hanya bisa terima hasilnya saja. Jam udah menunjukan pukul 6 a.m. satu jam lagi acara itu dimulai, dan kini aku sudah siap dengan dress merah, heels, dan rumbut yang aku curly dan kubiarkan terurai. Tak lupa aku juga sudah membawa a gift untuk BaJu, yakni satu buku diary yang berisikan tentang BaJu, dan ku sisipkan beberapa fotonya, dengan alasan kelak jika kita bertemu lagi aku berharap dia masih mengingatku. "Duh yang malam ini cantik banget." Goda Eng. "Apaan sih Eng mulai deh." "Iya bener kamu cantik banget malam ini sayang, sukses ya." kali ini bunda ikut ikutan meledekku. "Hehe cantiknya juga karena bunda." "Buruan yok berangkat, ngga lucu dong kalau Bayu yang nungguin kamu, yang ada dia malah unmood gara-gara kamu suruh nunggu." ajak Eng ribet.

       Eng hanya mengantarku sampai depan cafe yang sudah dipersiapkan untuk acara ini, selepasnya aku mesti menghandle sendiri. Oke, dengan gugup dan sedikit ragu aku melangkahkan kakiku masuk ke cafe. Di depan pintu aku sudah disambut ramah oleh seorang pelayang cafe, dan kini dia menghantarku ke meja yang disiapkan untukku dan BaJu. Nuansa pink kian menambah keromantisan di ruangan ini. Jantungku berpacu dengan tidak normalnya, ketika sesosok pria tinggi, berkulit putih langsat, dengan membawa sebucket bunga tulip kesukaanku. Bayu Julio, kini pria itu ada dihadapanku. Mata coklatnya nampak begitu jelas. Tubuhku mulai lemas, bibirkupun tak sanggup untuk berucap, aku tak mau berkedip saat itu karena takut ketika aku berkedip aku akan terbangun dari mimpiku. Karena terlalu asyik menatap matanya aku sampai lupa mengajaknya duduk. "Duduk kak." ajakku. "Hai, Anggun ya? Apa kabar?" Suara serak Bayu benar-benar mampu membiusku seketika. "Ha? Aa baik kok kak, kakak apa kabar?" "Aku baik, you know? You are so beautiful with your red dress." Jlep! Jantungku seakan berhenti mendengar ucapan BaJu, walaupun aku tau ini hanya pujian biasa, namun luar biasa bagiku. 

       Kita mulai membicarakan banyak hal sembari menunggu makanan datang. Mulai dari kebiasaan BaJu waktu di lokasi syuting, sampai hobbyku stalkingin IG nya. Sungguh moment yang tak ingin berlalu begitu saja. 'Tuhan, andai boleh aku memohon, ijinkan aku memohon hentikan waktunya kali ini saja karena aku ingin terus berada dimalam ini,'batinku. Setelah selesai makan, BaJu mengajakku selfie, untuk kenang kenangan katanya karena dia bangga. punya fans sepertiku. Duh jadi terharu. "Mau selfie?" "Ha? Seriously?" "Of course , aku mau abadiin moment with special fans kayak kamu. Oke pake iphone ku dulu ya, habis pake ponselmu." Oke kali ini aku bisa memutuskan pendapat kalo BaJu bener-bener humble banget. "Oke kak." aku tersenyum sumbang. Kini jarak kita semakin dekat, dan aku udah mulai ngga jaim lagi. Kita mulai narsis didepan camera, ngga nyangka kalau kita udah menghabiskan banyak gaya. Sebelum berpamitan BaJu memberiku sebuah hadiah yakni satu kemeja milik BaJu dan juga gelang kulit bertuliskan Bayu Julio. Sungguh keren, ketika giliranku untuk balik memberikan hadiah. Wajahku mendadak pucat mengingat pemberian BaJu yang sungguh keren, sedangakan aku? Banyak fikiran negatif yang muncul di otakku. Akhirnya kuberanikan diri untuk mengungkapkan. "Kak, aku minta maaf sebelumnya, aku cuma bisa ngasi ini dengan harapan kelak jika kita diijinin buat bertemu lagi entah sengaja ataupun engga, pastinga kalau sengaja engga mungkin hehe aku pingin kakak inget kalau kita pernah melewati malam ini." "Makasih banget buat kamu Anggun, karena kamu udah jadi fans setia buat aku, kalau tanpa kamu pun aku juga bukan apa-apa. Dan aku akan berusaha mengingat malam ini. Kalaupun aku lupa harap dimaklumin ya hehe." ujar kak Bayu sederhana. Akupun memeluknya sebagai tanda perpisahan, enggan rasanya untuk melepaskan malam ini, air mataku mulai berlinang. "Ngga usah nangis, percayalah kelak kita akan bertemu entah kapan itu." kata kak Bayu sembari mengacak-acak rambutku lembut. Aku hanya tersenyum menatapnya. 

       Malam ini benar-benar pergi, karena yang datang pasti akan pergi dengan menyisakan kenangan. Aku hanya berdiam diri diatas kasur sembari menatap poster BaJu di langit kamarku. Dengan sendirinya bibirku melengkung manis. Mengingat satu demi satu perjalanan malam ini bersama Bayu Julio, inilah hari terbahagiaku. Sebenernya aku pengen teriak sekarang, tapi aku masih menyadari kalau langit sudah benar-benar gelap. Segera kuurungkan niatku itu. Kuraih ponselku, kucari nama sahabatku dengan niat menghubunginya ingin meluapkan semua teriakanku dengan bercerita.

                          ***                                           

                    KELULUSAN 

       Tak terasa waktu memilih berlari ketimbang berjalan. Begitu cepat. Setelah 6 bulan semenjak kejadian itu, kini aku tengah diwisuda untuk mengakhiri masa remajaku di dunia putih abu-abu. Ya kini aku telah resmi lulus dari sekolah ini, namun satu hal kenyataan yang harus aku terima, yakni aku harus berpisah dengan Eng sahabat hidup matiku. Dan kini aku harus memperjuangkan hidupku bersama bunda, membahagiakan bunda tentunya.  Eng memutuskan melanjutkan sekolah di Jerman, dan aku? Aku harus membanting tulang untuk hidupku dan bunda, semua itu demi bunda. Ya hanya bunda semangatku saat ini. 

       Kini Raka kekasih yang begitu setia denganku, kekasih yang begitu tulus, dan dia anugrah terindah dihidupku, kini melanjutkan sekolah di Universitas Negeri di kota Wingko ini. "Raka kamu nglanjutin kemana?" "Kayaknya sih UNDIP." "Kok cuma kayaknya sih?!" "Habisnya aku masih ragu bisa lolos apa engga." Ku genggam tangannya dan kutatap matanya untuk meyakinkannya. "Raka, kamu harus yakin kamu itu bisa, percaya ama aku deh." Kuimbuhi senyum setelah ucapanku tadi. "Makasih ya sayang." diusapnya rambut ikalku dengan lembut. "Kamu serius mau kerja? Ngga mau kuliah dulu?" sambung Raka. "Kalau aku kuliah nanti bunda gimana? Usia bunda semakin senja, aku takut kalau aku terlambat nantinya." "Aku salut sama kamu. Bener-bener wanita tangguh, sama kayak bundamu."

                                  ***

       Hari ini keberangkatan Eng ke Jerman. "Kamu yakin mau pergi?" tanyaku pada Eng, berharap dia mau berubah pikiran. "Iiih kamu jangan sedih dong aku pasti balik kok." Air mataku mulai runtuh, dan kupeluk sahabatku itu. "Aku pasti bakal kangen banget sama kamu Eng. Aku bakal kesepian juga setelah ini." "Aku juga bakal kangen sama kamu. Kamu jaga diri baik-baik ya di sini. Jangan pernah lelah untuk bermimpi dan jangan takut untuk mewujudkannya. Bolehlah kita mendengarkan ucapan orang lain, tapi alangkah baiknya kita memikiran dan menyaring omongan itu terlebih dahulu.  Aku yakin ketika aku balik nanti akan ada perubahan denganmu. Aku berangkat dulu ya." Eng bener-bener pergi, dan aku harus memulai hidup dari awal lagi tanpa Eng yang selalu menjadi sandaranku ketika aku rapuh, dia sahabat yang sesungguhnya. 'Aku janji Eng, kelak aku sukses kamulah orang yang selalu ada dipikiranku setelah bunda.' batinku sambil melepas kepergian Eng.

      Aku memulai hidupku sekarang. Memeriksa kolom demi kolom iklan baris dikoran untuk mencari lowongan pekerjaan yang pas untukku. Setiap hari aku menyusuri kota ditemani teriknya matahari, dengan membawa surat lamaran. Mulai dari SPG di mall, waiters di cafe hingga kasir di minimarket atau supermarket. Itupun aku harus menunggu selama seminggu untuk mendapat jawaban dari mereka. Sangat membosankan, selama seminggu hanya tidur makan mandi nonton tv bersih-bersih rumah, begitu seterusnya. Ternyata menunggu adalah hal yang paling membosankan, apalagi untuk hal yang tidak pasti.

       Satu minggu sudah aku menunggu, setelah cukup bosan aku mendapat kabar kalau aku diterima jadi SPG mobil Paragon mall. Dengan ketentuan aku harus memakai rok mini, make up,  berpenampilan menarik intinya. 'Untung sebelum Eng berangkat dia sudah mengajarkanku cara ber make up.' ucap hatiku. 

       "Mari pak dilihat dulu mobilnya." "Ini kakak brosurnya bisa dilihat dulu." begitulah kerjaku. Berdiri dengan heel selama 6 jam, memasang muka yang selalu tersenyum di depan custom. Sungguh melelahkan, namun inilah hidup kalau tak mau lelah jangan mau hidup. 

                          ***

                  MERANTAU

       6 bulan sudah kontrak kerjaku dengan perusahaan mobil tersebut habis, kembali lagi hidupku menggantung, masih belum mengerti mau kemana kaki ini melangkah selanjutnya. Sampai akhirnya aku memutuskan mengajak bunda untuk merantau ke Ibu Kota. "Kamu serius mau ke sana?" tanya bunda ragu. "Iya bunda, Anggun serius, Anggun yakin kita bakal sukses di sana. Bunda mau kan ikut Anggun?" jelasku mencoba meyakinkan bunda. "Iya bunda akan terus ikut kemana kamu pergi sampai mata bunda tak mau membuka lagi, sampai tangan bunda tak sanggup merangkulmu lagi, sampai mulut bunda beku untuk berkata. Bunda akan ikut kamu." Mataku mulai berkaca-kaca, kupeluk bunda erat-erat.

       Malam ini kebetulan aku ada janji jalan dengan Raka, aku juga berniat untuk bicara tentang keputusanku yang minggu depan akan merantau ke Ibu Kota. "Bang bakso 2 ya." kita memang bukan lagi di cafe, ini permintaanku karena aku lebih nyaman makan di kaki lima. "Raka?" "Kenapa sayang?" dia tak lupa untuk memberikan senyum termanisnya. "Aku mau ngomong nih." "Yaelah ngomong apa sih sampe pake ijin segala." "Minggu depan aku sama bunda mau pindah ke Jakarta." suaraku melirih seketika. "Lho kok dadakan? Emangnya kamu ada masalah apa?" Aku melihat wajah Raka yang memucat. "Aku ngga ada masalah apa-apa, tapi aku ingin mengubah nasib hidupku dan aku yakin di sanalah aku mampu mengubahnya." "Gimana dengan aku?" Aku hanya diam tak mengerti, selama ini Raka selalu mendukung keputusanku, dan baru kali ini dia menyatakan tak setuju. "Raka kamu tetap pacar yang hebat buat aku. Kamu nggamau LDR ama aku?" kataku dengan bibir yang mulai bergetar. "Bukanya aku nggamau tapi aku takut." nada suara Rakapun mulai melirih. "Kamu takut apa?" "Takut aja kalau suatu saat kita ngga bisa melanjutkan hubungan ini." "Raka, kamu tau kan aku sayang sama kamu, kalaupun kita harus berpisah yakinlah itu bukan kemauanku melainkan takdir yang berucap demikian. Kalaupun yang kamu khawatirkan itu terjadi kamu tak perlu bersedih karena saat itulah kita diuji seberapa jodohkah kita berdua." Tanpa babibu Raka memeluku erat dengan mengusap punggung rambutku.

                                 ***

       Aku sudah berada di stasiun bersama bunda, dan aku siap untuk merantau ke Ibu Kota. Tak henti-hentinya Raka memelukku seakan enggan mengijinkanku pergi. "Raka aku harus pergi, kamu ngga boleh kayak gini terus. Aku janji kalau udah sampai aku bakal hubungi kamu. Kamu jaga diri di sini ya, banyakin belajar yang serius kuliahnya." "Kamu juga hati-hati di sana, jangan sampai lupa makannya." Setelah ucapan Raka itu aku dan bunda melangkahkan kaki menuju gerbong kereta yang sudah menunggu sedari tadi. Air mataku mengiringi langkahku.  

       Keretaku mulai melaju menyusuri lekuk demi lekuk jalanan, lukisan-lukisan yang di gambar oleh sang Agung, kekayaan bumi pertiwi yang tersembunyi dibalik rerimbunan kejahilan manusia yang tidak mau merawat apalagi menjaga bumi pertiwi.

       Keramaian Ibu Kota sudah terasa saat kakiku mulai terhenti di stasiun Gambir. Gemeruyuk kawanan manusia mulai menghampiri pemandanganku. Serem. Kata itu yang sedang melintas di jalan pikiranku. "Gimana? Masih tetep mau di sini?" tanya bunda memastikan. Aku hanya diam berusaha mencari keyakinan hatiku. Aku hanya mengangguk tegas, kenyakinanku mulai bulat karena memang di sinilah kelak kehidupanku berubah. Aku yakin itu. "Bunda bangga sama kamu." bunda cium keningku penuh kasih sayang.

                             ***

       Aku yang tak betah terlalu lama berdiam diri di rumah kini mulai mencari lowongan pekerjaan. Aku mulai mengirim surat lamaran SPG di sebuah mall. Lagi-lagi aku diminta untuk menunggu hal yang tak pasti. Membosankan. Seminggu sudah aku menunggu sampai akhirnya aku mendapat panggilan kalau aku diterima sebagai SPG kosmetik.

       "Mari kakak testing dulu, ini mampu menghilangkan bekas jerawat dan aman untuk semua jenis kulit kakak, ada garansinya juga ngga cocok uang kembali." jelasku untuk memikat para pengunjung yang lewat. Aku begitu besyukur, posisiku di terima di kalangan rekan kerjaku. Perlahan-lahan aku mulai menikmati kehidupanku.

                             ***

       Setahun sudah aku menikmati manis pahitnya hidup di Jakarta. Ayu, teman baruku di Ibu Kota, bisa dibilang dia mampu menggantikan posisi Eng saat ini. Eng, aku rindu sekali dengannya. Sudah sebulan kita tak ada kontak, apa kabar dia di sana.

       Hari ini aku ingin menikmati liburanku dengan jalan ke mall bersama ayu. "Nggun makan yuk, gue laper nih." "Eellah baru juga nyampek." "Di kosan gue ngga ada makanan."  Tanpa menunggu jawaban dariku dia langsung menarikku ke food court. Usai makan aku melihat ke salah satu sisi mall yang nampak ramai. "Yuk di sana ada apa sih?"  ku tunjuk sisi yang ku maksudt. "Eh iya ada apa ya? Kepo nih gue, ke sana yok." Aku dan Ayu kini tengah berada di dalam barisan yang aku tunjuk tadi padahal kita sama-sama tak tahu apa yang terjadi di sini. "Yuk ini ada apa sih? Kok isinya cewe semua, cantik-cantik lagi." tanyaku polos. "Tauk tuh gue juga ngga ngerti, katanya sih ada casting gitu." "Ha? Casting apaan? Balik yuk ah." Saat aku berniat untuk mengambil arah balik hanya saja seorang wanita mencegah dan melarangku. "Sorry kak, kakak harus tetep stay di sini, karena sebentar lagi giliran kakak." "Tapi kan saya ngga bawa persyaratannya." "Ngga apa-apa kak itu bisa menyusul." 

       "Ayu gimana nih? Aku gugup, bentar lagi giliranku." "Lo tenang aja gaperlu gugup, anggap aja lagi latihan drama buat tugas bahasa Indonesia. Dan lolos atau engga itu buat pengalaman aja." cerocos Ayu menenangkanku.

       Kini giliranku untuk casting. Di sebuah ruangan 5x5 meter inilah aku dituntut untuk menampilkan kemampuanku dalam berakting. Hampir 5 menit aku berada di dalam ruangan itu. Mulai dari akting menangis, tertawa, peran antagonis, protagonis bahkan menjadi orang gila sekalipun. Para juri hanya tersenyum menyaksikan penampilanku, aku tak mengerti apa arti senyum itu, mungkin saja dikarenakan aktingku yang aneh itu tapi entahlah. Ayu kemudian menggantikanku di ruangan itu.

                            ***

                MEET YOU AGAIN

       "Bunda dapat pesanan kue ya?" Bundaku kini menekuni usaha kue kecil kecilan untuk menambah biaya hidup. Semenjak kontrak kerjaku habis aku belum mendapat panggilan kerja sama sekali. Aku jadi merasa bersalah dengan bunda, akulah yang mengajak bunda ke sini dengan tekad untuk merombak nasib namun apa daya sekarang bundalah yang sibuk membanting tulang untukku. "Anggun bantuin ya bunda." Bunda hanya tersenyum. Sangat manis. "Bunda maafin Anggun ya," ucapku dengan nada lirih. " Maaf kenapa sayang?" "Aku yang mengajak bunda ke sini, dengan maksud ingin merombak nasib, tapi sekarang malah bunda yang sibuk kerja buat aku," jelasku. "Kamu ngga perlu minta maaf nak, ini bunda sendiri yang mau. Karena bunda juga bonsen kalau cuma  diem di rumah ngga ngapa-ngapain." 

       Selagi sibuk membantu bunda, ponselku bunyi. Segera aku mengambil langkah seribu menuju kamar tanpa cuci tangan terlebih dahulu, karena berharap itu telepon dari Eng ataupun Raka. Ternyata bukan melaikan dari PH yang kemaren mengadakan casting. Seketika mataku terbelalak, sungguh girang rasanya. "Hallo selamat siang." "I..iya selamat siang." "Apa benar ini dengan Carroline Anggun Pramudyana?" "Iya benar, ini dengan siapa ya?" "Saya dari PH yang kemarin mengcasting anda, saya mau memberi info kalau anda lolos dalam casting tersebut, dan diundang ke lokasi untung mulai mengikuti syuting. Untuk alamatnya akan saya kirim via e-mail" "Baik Pak terimakasih atas infonya." Spontan setelah menutup telepon aku teriak kegirangan, tak peduli bunda akan memarahiku, yang jelas inilah yang namanya keyakinan dalam suatu mimpi.

       Kuceritakan hal itu pada bunda, kamipun berpelukan dalam haru. "Selamat ya nak, bunda bangga sama kamu." Tangiskupun semakin menjadi. "Sudah ah nangisnya, kamu ngga mau ngabarin Enggita dan Raka." "Ooo iya hampir lupa, sebenernya aku pengen banget ngabarin ke Eng bun, tapi e-mailku yang terakhir bulan lalu aja belum dibalas, entah ke mana itu anak." "Yaudah tetep kabarin aja lewat e-mail, seenggaknya kamu sudah bercerita. Kalau Raka kamu ngga ada alasan buat ngga ngabarin dia kan?" "Hehehe ah bunda bisa aja." Kuraih ponselku untuk menelepon Raka, aku juga kangen dengannya. Kalau saja sekarang ada Eng dan Raka pasti saja mereka akan megatakan kalau mereka ada dibarisanku. Aku rindu mereka. Ketika nada sambung mulai berbunyi, ku ceritakan bait demi bait perjalananku di sini, juga tak lupa kalau aku juga rindu padanya. " Waahh selamat ya sayang." rasanya terdengar tak ada raut bahagia di sana. "Kamu ngga seneng ya?" "Hehehe masa iya sih aku ngga seneng lihat pacarku sukses, ngga mungkin dong." "Bohong! Kamu meragukan feelingku ke kamu ya?" "Bukannya gitu sayang, tapi.." "Nah kan kamu bohong. Kamu kenapa? Kamu ngga setuju ya? Kalau memang ngga setuju, aku mundur aja." "Kamu kok ngomong gitu, aku ngga mungkin menghentikan mimpimu, aku tak sejahat itu, karna cinta itu sebenarnya simple membiarkanmu dalam bahagiamu. Hanya saja sebenarnya aku takut, takut akan hubungan kita." "Raka, percayalah hubungan kita akan tetap seperti dulu, karena yang aku kerjakan hanyalah sebuah drama belaka. Kamu ngerti kan?" ucapku dengan tujuan meyakinkan Raka.

                           ***

       Tubuhku melemas jatungku tak berfungsi normal, mulutkupun terasa kaku untuk berucap saat mengetahui aku ada dilokasi tempat dia syuting, karena memang ketika casting aku tak memikirkan sinetron apa yang sedang diusung. Ya, aku sedang berada di lokasi syuting Bayu Julio, dan itu tandanya aku bakal satu frame dengannya bertemu setiap detiknya.

       Aku diajak salah satu crew ke suatu tempat artis beristirahat atau sekedar menunggu take, di sana pula aku dikenalkan oleh para pemain, Bela Agnesia, Reynaldo Syarief, dan lain sebagainya, tentunya juga dengan Bayu Julio. Mereka semua lah yang akan menjadi rekan kerjaku sekaligus mengisi hari-hariku nantinya. "Hay, Bayu Julio." sapanya dengan ramah. "Carroline Pramudyana." Itulah namaku selama aku ada dilayar kaca, karena memang demikianlah ketentuannya.

                            ***

                       BE MINE

       Keluarga baru, itulah sebutan yang pas untuk orang-orang di lokasi syuting ini. Aku sangat besyukur dengan kehidupanku yang sekarang, aku merasa ekonomi keluargaku sudah berubah lebih dari cukup. Disisi lain aku juga harus menelan pahit akibat putusnya hubunganku dengan Raka, faktor kesibukanku lah yang menyebabkannya. Sedih rasanya, namun aku yakin tak selamanya putus itu terjadi karena suatu hal yang menyakitkan, melainkan suatu pilihan untuk jalan yang terbaik kedepannya. "Woy bengong mulu, nih makan."ucap kak Bayu yang membuyarkan lamunanku tiba-tiba sembari menyondorkan snack. "Ih kakak ngagetin aja." "Salah sendiri galau mulu. Udahan napa galaunya." "Dih siapa yang galau coba, kakak kali." "Hahaha tau aja, aku lama-lama capek ngadepin dia yang marah-marah mulu." "Ngga boleh gitu lah kak, kakak harus terima resikonya ketika berani memutuskan kak Jesica yang menjadi pilihan kakak." kataku sok bijak. Memang sekarang aku menjadi lebih dekat dengan BaJu, sering sharing, ngasi saran, jalan bareng mungkin sekedar lunch ataupun makan malam kalau lagi ada jadwal take yang barengan waktunya. "Sok bijak lo." ledek kak Bayu sembari mengacak-acak rambutku dengan manis.

       "Gue putus." katanya saat mengahampiriku yang lagi nunggu jatah take. "Lho?" "Dia yang mengakhiri, bukan gue kok." Ku genggam tangannya dengan maksudt untuk menguatkan. "Keep strong ya kak." Dia hanya tersenyum sambil menatapku dengan tatapan aneh menurutku.

       Hari ini pukul 12 malam aku baru selesai take. Seusai take aku berniat kembali ke ruang istirahat untuk mengambil tasku, tubuhku tersontak ketika melihat Bayu yang tertidur disebuah kursi. 'Bukannya dia udah selesai daritadi, dan seharusnya ada take lagi besok pagi.' ucap hatiku. Ku cuba membangunkan Bayu dari tidurnya. Sungguh manis, lagi tidur aja manis apalagi kalau senyum. "Kak.. bangun, kakak ngga pulang?" Dengan wajah sedikit sayu dia mencoba membuka mata dan menggerakkan tubuhnya perlahan. "Lo  udah selesai?" "Udah. Kakak ngapain tidur di sini? Bukannya udah selesai daritadi dan baru take lagi besok?" tanyaku bingung. "Gue  nungguin lo." jawabnya polos, membuatku tak bisa mencerna kata-katanya barusan. "Ngga usah terlalu dipikirin, kamu udah selesai kan? Kita pulang yuk!"

       Semenjak aku dan BaJu sama-sama putus dengan pasangan kita, kita semakin tambah dekat. Nonton, berangkat dan pulang syuting selalu bareng, lunch n dinner bareng, itulah kegiatan kami akhir-akhir ini. Terkadang dia juga menemaniku nge-host di acara musik ISTIMEWA setiap pagi, itu kalau dia ngga ada jadwal take.

       "Ciyee ada yang ditungguin ciye." goda kak Adit saat nge-host di ISTIMEWA. "Apaan sih kak cuma temen." "Lebih juga ngga apa-apa kok." ledeknya.

       Saat ini menjadi teman, sahabag dekatnya saja aku sudah sangat bersyukur, karena dapat melihat senyumnya setiap saat itu melebihi mimpiku yang dulu hanya ingin bertemu dan bisa memeluknya. Walaupun sampai sekarang dia masih tak menyadari keberadaanku.

                            ***

       Seperti biasa, pagi ini aku ada jadwal nge-host di ISTIMEWA. Semalam BaJu janji akan menemaniku pagi ini, tapi tiba-tiba saja tadi pagi dia mengubungiku kalau tidak bisa menemani syuting karena ada acara dengan keluarganya, dadakan gitu katanya.

       Saat memijakan kaki di studio aku merasa mulai ada yang aneh, tapu aku berusaha mengabaikannya dan tetap tenang untuk menjaga kelancaran acara ini. Karena memang inilah resiko di dunia entertaiment tetap tersenyum walau sebenarnya hatinya penuh dengan sayatan sekalipun. Namun firasat ku mulai menebal ketika aku di suruh opening sendirian setelah break sejenak. Menurut list urutan acara yang aku baca tadi, setelah break segment ke 3 akan ada video clip dari Sheila On7. Dan ternyata aku salah, penampilan Geisha dulu baru video clip, peristiwa membuatku dipanggil produser dan dimarahi habis-habisan yang membuat bendungan mataku hampir roboh.

       Disela-sela aku sedang dimarahi, aku mendengar samar-samar lagu Adera~Lebih Indah, namun ini bukan suara Adera yang lagi aku dengar. Tiba-tiba saja mataku mengarah ke sudut ruangan tempat aku disidang produser, di sana aku menyadari kalau ada camera yang mengintaiku sedari tadi. Sial aku dikerjai. Dan suara itu. Ketika aku kembali ke studio, aku melihat sosok pria yang hampir setiap hari menemaniku, kini dia tengah membawa gitar dan menyanyikan lagu Adera itu. Tapi bukankan dia sudah bilang kalau ada acara. BaJu, pria itu yang sedang menyanyi di studio, dan on air.

       Ditarik tanganku oleh kak Adit menuju tengah studio. Ditengah-tengah lagu yang sedang dinyanyikan BaJu, aku melihat penonton yang mengangkat balon berbentuk huruf, jika dirangkai membentuk kata 'Carrol I ❤ U'. Robohlah sudah bendungan mata yang daritadi aku pertahankan. Aku benar-benar tak menyangka imajinasiku dulu benar-benar terjadi mesti dengan alur yang berbeda. Ketika dia menghentikan permainan gitarnya, disaat itu juga sorakan penonton mengisi keramaian distudio. "Will you be girlfriend?" Aku masih terdiam menahan haru. Hingga akhirnya aku beranjkan diri membuka mulu, dengan menggengam sebuah kotak yang sebelumnya aku meminta asistenku untuk mengambilkannya. Ku tunjukkan gelang itu dengan tangan bergetar. "Kamu inget ngga? Gelang ini yang dulu kamu kasi ke aku ketika ada kompetisi date with your idola, saat itu aku yang beruntung, bertemu kamu, nge-date bareng kamu. Aku Carroline Anggun Pramudyana, yang pernah ngasi kamu diary dan berharap kamu masih menyimpannya." Suasana berubah menjadi hening, dia hanya diam berusaha mencerna ucapanku. "Sampai sekarang buku itu masih aku simpan, dan aku sangat suka membacanya. Anggun salah satu fans yang benar-benar berani untuk bermimpi, namum bukan fans fanatik, aku suka itu. Dan ketika tadi kamu bilang kalau kamu Anggun itu kamu, semakin aku yakin kalau kamu pilihanku saat ini. Jadi gimana?" "Sebelumnya aku tak pernah berimajinasi ataupun bermimpi menolaknya." ku imbuhi senyum haru setelah berkata demikian, kemudian dia memelukku erat diikuti sorakan bahagia para penonton di studio. 'Eng andai kamu di sini, lihat Eng perjuanganku mencapai indahnya.' batinku.

                           ***

                LITTLE SURPRISE

      
       1tahun sudah aku menjalin hubungan dengan Bayu, Walaupun terkadang ada kerikil yang mencoba mengganggu perjalanan kami, namum itulah resikonya.

       Hari ini aku ada jadwal syuting di acara RAINBOW SHOW. Aku bintang tamu utamanya hari ini, karena memang tema acaranya hari ini adalah perjuangan mimpi. "Apa yang membuat kamu berani untuk berimpi?" tanya om Indra. "Menurutku setiap orang tak punya alasan untuk takut berimpi, karena dengan mimpi kita bisa menentukan arah hidup kita nantinya." jawabku. "Kenapa harus sosok Bayu Julio?" "Kalau kenapa harus Bayu Julio aku ngga tau, kalau dulu mungkin aku mikirnya dia humble, ganteng, yaa alasan-alasan standart lah sebelum akhirnya aku ketemu dia, dan sampai muncul alesan takdirlah yang membawaku ke suatu perjuangan hingga akhirnya menyatukan kami." Tiba tiba saja ada se-bucket tulip bermacam warna yang di sondorkan dari belakang punggungku. Lagi-lagi Bayu Julio.

       "Sebelumnya, siapa sih orang yang sangat berjasa dan berarti di hidupmu di masa lalu selain bunda." tanya om Indra, lagi. "Mmm, selain bunda ya? Dia satu-satunya sahabatku di dunia abu-abu dan sampai sekarang, bisa dibilang dia moodboster dihidupku, dia yang perlahan mewujudkan mimpiku, yakni bertemu dengan Bayu. Tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk kuliah di Jerman." "Masih contact-contact.an?" "Kurang lebih 6 bulan awal sih masih sering komunikasi, setelah itu dia menghilang entah ke mana." Bendunganku lagi-lagi mulai roboh. "Kalau hari ini dia nonton, apa yang pengen kamu sampaikan?" "Hai Eng, kamu di mana sekarang? Apa kabar? Lihat Eng perjuanganku mencapai indahnya, semua ini berkatmu Eng. Kamu kapan pulang? Aku kangen banget sama kamu." jawabku terbata-bata karena dadaku yang sesak menahan tangis. Seketika suara tepuk tangan meramaikan studio yang menghantarkan kedatangan Eng. Ya, Eng ada di studio ini. Ku ambil langkah seribu untuk memeluknya erat, seakan enggan melepaskannya karena terlalu lelah menahan rindu.

                            ***

       Ketika kamu berani bermimpi maka saat itu juga kamu dituntut untuk tidak takut memperjuangkannya. Dan disaat kamu tak berani untuk berjuang, apa gunanya kamu hidup. Karenanya percayalah hanya akan ada pelangi yang indah setelah adanya hujan dan langit yang mendung ��


                   ~•SELESAI•~